Perubahan Iklim

Dua Raksasa Pasar Karbon Bergabung: CIX dan Carbonplace Rombak Infrastruktur Perdagangan Karbon Global

40
×

Dua Raksasa Pasar Karbon Bergabung: CIX dan Carbonplace Rombak Infrastruktur Perdagangan Karbon Global

Sebarkan artikel ini
Pasar Karbon ilustrasi

KabarHijau.com – Dua platform pasar karbon yang didukung bank-bank global, bursa efek, dan investor iklim, Climate Impact X (CIX) dan Carbonplace, resmi mengumumkan rencana merger, sebagaimana dikutip dari esgnews.com. Penggabungan ini bertujuan menghadirkan rantai transaksi karbon yang lebih terintegrasi, mulai dari sumber kredit, perdagangan, hingga penyelesaian (settlement) dan retirement kredit karbon.

Transaksi ini masih menunggu persetujuan dari Otoritas Moneter Singapura (MAS), mengingat sejumlah pemegang saham kedua perusahaan merupakan lembaga keuangan yang diatur secara ketat. Proses integrasi diperkirakan rampung pada kuartal pertama 2027, dan selama masa transisi tersebut kedua perusahaan akan tetap beroperasi dengan mereknya masing-masing.

Dalam struktur baru, CEO CIX Oi-Yee Choo akan memimpin entitas gabungan, sementara CEO Carbonplace Scott Eaton akan menjabat sebagai Presiden.

Choo menegaskan bahwa langkah ini lahir dari kebutuhan mendesak akan infrastruktur pasar yang solid. “Menskalakan akses dan likuiditas untuk memenuhi kebutuhan pasar karbon global yang terus tumbuh membutuhkan infrastruktur yang andal dan tepercaya,” ujar Choo.

Melengkapi Rantai Transaksi Karbon

CIX selama ini dikenal sebagai penyedia pasar untuk kredit karbon, sertifikat energi terbarukan, dan produk lingkungan lainnya, dengan fokus pada pengadaan, perdagangan, dan price discovery. Sementara itu, Carbonplace menyediakan layanan manajemen portofolio karbon, akses multi-registry, serta infrastruktur penyelesaian transaksi yang dirancang khusus untuk pelaku institusional.

Kedua perusahaan sebenarnya sudah menguji model kolaborasi ini sejak 2022, lewat transaksi percontohan di mana kredit karbon diperdagangkan melalui CIX sebelum diproses dan diselesaikan lewat Carbonplace. Menurut Eaton, permintaan klien akan struktur yang lebih sederhana, yakni satu ekosistem tunggal mulai dari kepemilikan aset hingga akses ke marketplace, menjadi salah satu pendorong utama di balik keputusan merger ini.

“Saya ingin menyimpan aset saya di dompet Carbonplace, lalu berpindah ke marketplace untuk melihat harga dan berinteraksi dengan klien lain, tanpa harus pindah platform. Merger ini soal merespons kebutuhan klien itu,” kata Eaton.

Didorong Ekspansi Pasar Karbon Wajib (Compliance Market)

Merger ini terjadi di tengah perluasan pasar karbon yang tak lagi sebatas pembelian sukarela oleh korporasi. Pasal 6 Perjanjian Paris membuka kerangka baru bagi transfer kredit karbon lintas negara, sementara skema Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (CORSIA) mendorong permintaan dari sektor penerbangan yang bersifat wajib.

Sejumlah pemerintah, termasuk Singapura, Inggris, dan Kenya, juga tergabung dalam Coalition to Grow Carbon Markets untuk memobilisasi modal swasta ke pasar karbon. Choo menilai perkembangan ini menuntut lapisan pembiayaan yang lebih dalam, baik dari sisi perbankan maupun ekuitas, agar pasar karbon bisa tumbuh secara signifikan.

Bagi investor dan pembeli korporat, tantangan utama kini bukan lagi sekadar ketersediaan kredit karbon, melainkan kepastian bahwa transaksi dapat dieksekusi dengan standar custody, auditability, dan kepatuhan regulasi yang memadai. “Sebuah transaksi hanya sebaik infrastruktur yang menyelesaikannya, dari kepastian kredit berpindah tangan, tersimpan aman, hingga bisa diretirement dengan jejak audit yang jelas,” ujar Eaton.

Dukungan Bank-Bank Global

Kelompok pemegang saham gabungan mencakup nama-nama besar perbankan dan bursa global, di antaranya BBVA, BNP Paribas, CIBC, DBS Bank, GenZero, Mizuho Financial Group, National Australia Bank, NatWest Group, SGX Group, Standard Chartered, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, dan UBS. Sementara itu, rincian pembagian ekuitas serta nama resmi perusahaan gabungan belum diungkapkan.

Bagi kalangan pengambil kebijakan dan investor, langkah ini mencerminkan pergeseran arah pasar karbon global, yaitu sekadar menyediakan platform perdagangan dianggap tidak lagi cukup di tengah meluasnya kerangka compliance dan derasnya arus modal institusional ke sektor ini. Penyatuan ekosistem karbon Singapura dengan pasar keuangan London juga berpotensi membangun infrastruktur yang lebih konsisten lintas kawasan, elemen penting untuk mendukung aliran modal lintas batas dalam skema karbon, baik yang bersifat sukarela maupun wajib.