Ekonomi Sirkular

Daur Ulang Panel Surya Berpotensi Hasilkan Rp320 Triliun pada 2050

298
×

Daur Ulang Panel Surya Berpotensi Hasilkan Rp320 Triliun pada 2050

Sebarkan artikel ini
Menurut laporan World Energy Outlook 2020 dari Badan Energi Internasional, energi surya adalah sumber listrik termurah. (Sumber gambar Bernama)

Kabarhijau.com – Daur ulang panel surya diperkirakan dapat menghasilkan material bernilai hingga 6 miliar dolar AS pada 2040 dan melampaui 20 miliar dolar AS pada 2050 seiring lebih dari 400 gigawatt kapasitas panel surya fotovoltaik yang akan memasuki masa akhir pakainya. Proyeksi ini disampaikan oleh International Renewable Energy Agency (IRENA) dalam laporan yang dirilis pada 12 Agustus lalu.

Energi surya fotovoltaik yang menjadi salah satu teknologi energi terbarukan paling banyak diadopsi di dunia diproyeksikan memegang peran sentral dalam transisi energi global, dengan kontribusi hingga separuh dari total kapasitas energi terbarukan terpasang secara global.

IRENA mengingatkan bahwa panel surya memiliki masa pakai sekitar 25 hingga 30 tahun sebelum akhirnya dinonaktifkan. Volume panel yang akan pensiun dalam dekade mendatang diperkirakan cukup besar sehingga proses pengumpulan dan pengolahannya membutuhkan setidaknya 120 ribu perjalanan truk berat serta lebih dari 150 fasilitas pengolahan berskala menengah yang beroperasi penuh.

Penerapan ekonomi sirkular dinilai mampu mencegah, meminimalkan, dan memanfaatkan kembali aliran limbah dari panel surya yang telah dinonaktifkan sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Lebih dari 90 persen material pada panel surya bekas, termasuk tembaga, aluminium, perak, silikon, dan kaca, dapat diperoleh kembali melalui proses daur ulang. Tingkat pemulihan mineral bernilai tinggi bahkan berpotensi mendekati seratus persen apabila kemajuan teknologi terus berlanjut.

Material hasil daur ulang tersebut dapat diperdagangkan di pasar komoditas yang sudah ada serta dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku produk industri baru, sehingga memberikan nilai tambah ekonomi tersendiri.

Selain manfaat ekonomi, ekonomi sirkular pada sektor ini juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru. Sektor energi surya fotovoltaik tercatat menyumbang 43 persen dari total lapangan kerja energi terbarukan pada 2024, atau setara lebih dari 7,2 juta pekerjaan di seluruh dunia. Sebuah kajian di kawasan Eropa yang dikutip IRENA memperkirakan bahwa pelatihan tenaga kerja dapat menghasilkan 60 hingga 140 lapangan kerja untuk setiap 1.000 ton material yang dikumpulkan dalam proses daur ulang limbah elektronik.

Di negara berkembang, praktik pengumpulan, perbaikan, penggunaan kembali, dan daur ulang limbah panel surya sebagai bagian dari ekonomi sirkular juga berpotensi menjadi sumber pendapatan bagi pelaku sektor informal.

Meski demikian, IRENA menekankan bahwa kerangka kebijakan perlu mempertimbangkan dampak kesehatan dari praktik-praktik tersebut serta menjaga manfaat sosial yang dapat meningkatkan kualitas hidup pekerja informal. Kerangka kebijakan di setiap pasar memang berbeda-beda, namun secara umum perlu mencakup kebijakan ketenagakerjaan, standar keselamatan kerja, dan langkah perlindungan lingkungan guna menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja.

Untuk memastikan target lingkungan tercapai sekaligus manfaat sosial ekonomi dapat dirasakan secara luas, strategi ekonomi sirkular untuk panel surya yang telah dinonaktifkan juga memerlukan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor.

Sumber: Diadaptasi dari Asian Power, berdasarkan laporan International Renewable Energy Agency (IRENA), 12 Agustus 2025.