Investasi & ESG

Startup AS Mafix Kantongi Pendanaan Pre-Seed $5,4 Juta untuk Komersialisasi Pupuk Silikon Penyerap Karbon

75
Startup AS Mafix

KabarHijau.com – Startup teknologi industri asal Amerika Serikat, Mafix, mengumumkan perolehan pendanaan tahap pre-seed senilai 5,4 juta dolar Amerika Serikat untuk mengomersialkan teknologi pupuk berbasis silikon yang dirancang mengatasi emisi karbon dioksida di atmosfer. Mafix sendiri didirikan oleh Jade Marcus, kandidat PhD teknik kimia di Stanford University, yang mengembangkan teknologi ini dari hasil risetnya di laboratorium kimia kampus tersebut.

Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Azolla Ventures dengan partisipasi sejumlah investor lain, yaitu Counteract VC, Astera Institute, Plug and Play Ventures, Impact Science Ventures, serta sebuah family office asal Belanda.

Dana yang telah diperoleh akan digunakan Mafix untuk mendemonstrasikan teknologi eksklusifnya secara komersial melalui produksi 1.000 ton pupuk silikon yang berfungsi memulihkan kesehatan tanah sekaligus meningkatkan hasil dan ketahanan panen sehingga kebutuhan terhadap pupuk konvensional dapat ditekan.

Proses yang dikembangkan Mafix telah berhasil mengatasi hambatan utama dalam metode enhanced rock weathering, yakni laju pelapukan mineral yang selama ini berjalan sangat lambat. Perusahaan ini mengkhususkan diri pada konversi batuan silikat yang bersifat inert menjadi mineral yang dapat melapuk dalam satu musim tanam, sehingga proses penghilangan karbon dioksida secara permanen dapat berlangsung sesuai dengan siklus waktu petani. Dalam proses tersebut, produk pupuk Mafix melepaskan unsur hara ke dalam tanah yang membantu peningkatan hasil panen sekaligus menyerap karbon dioksida dalam bentuk bikarbonat yang stabil.

Penurunan permintaan global terhadap klinker yang selama ini dikenal intensif karbon, ditambah sejumlah faktor lain, telah menyebabkan sekitar 30 persen kapasitas kiln semen yang tersedia secara global saat ini menganggur dan tidak termanfaatkan. Melihat peluang besar dari kondisi tersebut, Mafix menjalin kemitraan dengan produsen semen untuk memanfaatkan kapasitas kiln yang tersisa guna mengintegrasikan proses produksinya. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan menghindari kebutuhan investasi infrastruktur baru yang mahal sekaligus membuka peluang kerja sama dengan hub logistik yang sudah ada.

Pendekatan Mafix Dinilai Menguntungkan Pemilik Lahan

Andrew Shebbeare, partner di Counteract VC, menyampaikan bahwa pelapukan batuan di lahan pertanian merupakan salah satu cara paling sederhana untuk menyerap karbon dari atmosfer, namun dalam pengalaman yang ada selama ini manfaat yang diterima pemilik lahan kerap dinilai belum memadai. Ia menambahkan bahwa penggunaan mineral konvensional yang melapuk secara lambat menyebabkan penundaan pembayaran serta membengkaknya biaya pengukuran yang harus ditanggung selama bertahun-tahun.

Menurutnya, mineral yang dikembangkan Mafix mampu melapuk dalam satu musim tanam dan menawarkan manfaat agronomis nyata sehingga proses penyerapan karbon dapat berlangsung lebih cepat sekaligus membuat tanaman menjadi lebih tahan terhadap tekanan lingkungan. Kondisi ini dinilai memberikan keuntungan ganda baik bagi pemilik lahan maupun bagi upaya penanganan perubahan iklim secara lebih luas.

Relevansi bagi Indonesia

Perkembangan yang terjadi pada Mafix ini patut mendapat perhatian dari pelaku industri semen dan pertanian di Indonesia. Sebagai salah satu produsen semen terbesar di Asia Tenggara, Indonesia juga menghadapi persoalan serupa dengan yang disebutkan dalam laporan tersebut, yaitu kapasitas kiln yang tidak termanfaatkan secara optimal akibat pelemahan permintaan domestik maupun tekanan untuk menurunkan jejak karbon dari proses produksi klinker. Kondisi ini sesungguhnya membuka ruang bagi produsen semen nasional untuk mempertimbangkan skema kemitraan serupa, di mana kapasitas kiln yang menganggur dapat dialihfungsikan untuk mendukung proses produksi mineral silikat tanpa memerlukan investasi infrastruktur baru yang signifikan.

Dari sisi sektor pertanian, penerapan teknologi enhanced rock weathering berbasis mineral silikat memiliki potensi besar mengingat luasnya lahan pertanian di Indonesia yang tersebar dari Sumatera hingga Papua, termasuk di Aceh yang selama ini dikenal sebagai wilayah dengan basis pertanian dan perkebunan yang luas. Ketersediaan batuan silikat di berbagai wilayah tambang mineral di Indonesia turut menjadi modal awal yang dapat dieksplorasi lebih lanjut, khususnya bila dikaitkan dengan agenda hilirisasi sumber daya mineral yang selama ini menjadi prioritas kebijakan industri nasional.

Di sisi lain, teknologi semacam ini juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam pengurangan emisi gas rumah kaca sebagaimana tertuang dalam target Nationally Determined Contribution (NDC), sekaligus memberikan alternatif solusi bagi petani dalam negeri yang selama ini bergantung pada pupuk kimia konvensional dengan biaya produksi yang terus meningkat. Skema pendanaan pre-seed yang diperoleh Mafix turut memperlihatkan bahwa minat investor global terhadap teknologi penghilangan karbon berbasis pertanian semakin menguat, sebuah tren yang idealnya turut mendorong ekosistem pendanaan hijau di dalam negeri untuk memberikan perhatian lebih besar pada inovasi serupa.

Ke depan, pendanaan yang diperoleh juga akan dimanfaatkan Mafix untuk menyempurnakan proses konversi mineralnya agar dapat diterapkan pada beragam jenis bahan baku, dengan harapan dapat membuka peluang pengembangan produk generasi baru di sektor lain di luar pertanian.

Exit mobile version