Sains

Studi Baru: Kapasitas Penyimpanan Karbon Global Terbatas, Picu Perdebatan

188

KabarHijau.com – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal ilmiah Nature memicu diskusi hangat di kalangan ilmuwan iklim dan industri energi. Penelitian ini menegaskan bahwa kapasitas penyimpanan karbon dunia jauh lebih terbatas dari perkiraan sebelumnya, dengan batas aman (“prudent limit”) hanya 1.460 gigaton CO₂.

Angka tersebut jauh di bawah estimasi teknis sebelumnya yang mencapai sekitar 11.800 GtCO₂, dan hanya sekitar 12 persen dari total potensi teoritis. Penulis studi menekankan bahwa faktor rekayasa, keselamatan, dan tata kelola harus dipertimbangkan, sehingga penyimpanan geologis tidak bisa dianggap tak terbatas.

Implikasi bagi Strategi Energi dan Iklim

Untuk mencapai target net-zero, dunia diperkirakan harus menyuntikkan hampir 8,7 GtCO₂ per tahun pada puncaknya—setara dengan skala industri minyak global saat ini. Hal ini akan menuntut pembangunan besar-besaran infrastruktur berupa pipa, sumur injeksi, kompresor, pelabuhan, hingga sistem pemantauan.

Distribusi kapasitas penyimpanan juga tidak merata. Amerika Serikat, Rusia, China, Brasil, dan Australia memiliki potensi besar, sementara India, Norwegia, Kanada, serta sebagian Uni Eropa menghadapi keterbatasan setelah melalui penyaringan aspek keselamatan dan geologi.

Dr Robert Sansom dari IET’s Sustainability and Net Zero Policy Centre menegaskan:

“CCS adalah alat penting melawan perubahan iklim, tetapi ini bukan solusi tanpa batas. Kita harus memperlakukannya sebagai sumber daya strategis yang terbatas.”

Kondisi ini berpotensi mengubah rute transportasi CO₂ dunia, dengan lahirnya jalur pipa lintas negara dan koridor pengiriman menuju hub injeksi.

Kritik terhadap Temuan

Meski penting, studi ini menuai kritik. Prof Stuart Haszeldine, pakar CCS dari Universitas Edinburgh, menilai kesimpulan tersebut terlalu “high-level” dan bisa mengabaikan detail penting di lapangan.

“Kesimpulan bahwa cadangan kapasitas komersial hanya 10% dari estimasi sebelumnya bisa jadi terlalu menyederhanakan. Evaluasi yang terlalu global bisa kehilangan detail krusial di tingkat tapak,” ujarnya.

Sementara itu, Jack Andreasen Cavanaugh dari Center on Global Energy Policy mengingatkan bahwa penelitian ini hanya menyoroti formasi sedimen (akuifer salin dan reservoir minyak/gas yang habis), padahal potensi penyimpanan juga terdapat pada mineral storage (batuan basalt, peridotit) serta lapisan batubara.

Sumber Daya Strategis, Bukan Solusi Ajaib

Terlepas dari perdebatan, studi ini memberi sinyal bahwa penyimpanan karbon harus diperlakukan sebagai sumber daya strategis. Sektor “hard-to-abate” seperti pembangkit listrik dan industri semen kemungkinan akan diprioritaskan, sementara penerapan teknologi penyerapan karbon skala besar (CDR) bisa terhambat oleh keterbatasan kapasitas.

Temuan ini mempertegas tantangan besar transisi energi: dunia tidak hanya harus mengurangi emisi, tetapi juga memastikan bahwa solusi penyimpanan karbon berjalan dalam batas aman dan berkelanjutan.

Exit mobile version