Tahun 2025 menandai perubahan penting dalam perjalanan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture, utilization and storage (CCUS). Setelah lebih dari satu dekade dipenuhi proyek percontohan, pendanaan yang tersendat, dan perdebatan panjang soal kelayakan, CCUS mulai menunjukkan wajah baru sebagai infrastruktur iklim yang benar-benar berjalan.
Data pelacak global menunjukkan lonjakan signifikan jumlah fasilitas CCUS komersial yang beroperasi sepanjang 2025. Kapasitas penangkapan karbon global bertambah puluhan juta ton per tahun, kapasitas yang bahkan belum terbayangkan tiga hingga lima tahun lalu. Perkembangan ini didorong oleh proyek baru yang mulai beroperasi, investasi swasta berskala besar, serta dukungan kebijakan di sejumlah negara, meski di sisi lain beberapa pemerintah justru mengerem atau memangkas anggaran.
Banyak pelaku industri menilai 2025 sebagai titik balik. CCUS tidak lagi diposisikan semata sebagai eksperimen teknologi, tetapi sebagai bagian nyata dari strategi dekarbonisasi industri berat dan sistem energi.
Amerika Utara: Modal Swasta Melaju, Kebijakan Tidak Selalu Stabil
Amerika Utara masih menjadi episentrum pengembangan CCUS global. Amerika Serikat memimpin dari sisi jumlah proyek, sementara Kanada menunjukkan konsistensi dengan kapasitas penangkapan karbon sekitar 4,4 juta ton per tahun, terkonsentrasi di wilayah barat seperti Alberta dan Saskatchewan.
Di AS, perusahaan minyak, gas, dan industri besar berlomba mengamankan lahan penyimpanan karbon dan membangun konsorsium hub CCUS. Negara bagian Texas menjadi salah satu contoh penting, setelah memperoleh kewenangan penuh dalam pengelolaan penyimpanan CO₂ bawah tanah. Skema insentif pajak seperti kredit 45Q juga tetap menjadi tulang punggung kelayakan finansial proyek.
Namun, 2025 juga memperlihatkan sisi rapuh kebijakan publik. Sejumlah hibah Departemen Energi AS dipangkas, diubah, bahkan dibatalkan. Inflasi biaya dan tekanan fiskal memaksa beberapa pengembang menunda atau mendesain ulang proyek. Akibatnya, meski modal swasta bergerak cepat, proyek yang bergantung pada pendanaan publik menghadapi ketidakpastian.
Eropa: Jaringan Transportasi dan Penyimpanan Mulai Nyata
Jika Amerika Utara unggul dalam agresivitas investasi, Eropa menonjol lewat pendekatan terkoordinasi. Tahun 2025 menjadi momen penting bagi model jaringan CCUS lintas negara, dengan integrasi antara fasilitas penangkapan di darat, transportasi CO₂, dan penyimpanan lepas pantai.
Proyek Northern Lights di Norwegia menjadi simbol kemajuan ini. Selain memperluas kapasitas penyimpanan hingga jutaan ton per tahun, proyek tersebut mulai menerbitkan sertifikat resmi penyimpanan karbon permanen di bawah Laut Utara. Ini memberikan kepastian hukum dan teknis bagi industri Eropa yang ingin menekan emisi namun tidak memiliki lokasi penyimpanan sendiri.
Di sektor industri berat, pabrik semen dan fasilitas waste-to-energy mulai memasuki fase commissioning atau persiapan operasi. Meski demikian, jalan Eropa tidak sepenuhnya mulus. Beberapa proyek tertunda akibat pencabutan dukungan negara, restrukturisasi pengembang, hingga perubahan prioritas politik. Ketergantungan pada pembiayaan publik masih menjadi tantangan besar.
Asia-Pasifik: Strategi Negara dan Dorongan Industri
Di kawasan Asia-Pasifik, lanskap CCUS dibentuk oleh strategi nasional dan peran kuat perusahaan milik negara. China berada di barisan depan, dengan proyek-proyek CCUS yang berkembang cepat di sektor energi dan industri, didukung biaya yang relatif lebih rendah dan koordinasi negara yang kuat.
India mulai menata peta jalan CCUS untuk industri baja, semen, dan pembangkit listrik, termasuk uji coba penangkapan karbon di sektor semen. Thailand melangkah lebih jauh dengan proyek CCUS skala besar pertamanya di Lapangan Gas Arthit, dipimpin oleh PTTEP bersama mitra internasional.
Di Timur Tengah, negara-negara seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi memandang CCUS sebagai alat ganda, untuk menekan emisi sekaligus mempertahankan peran ekonomi sektor energi fosil. Namun, kritik juga menguat. Sejumlah analis mengingatkan risiko CCUS yang justru mengunci ketergantungan pada bahan bakar fosil jika tidak diiringi target iklim yang ketat dan transisi energi yang serius.
Pelajaran bagi Indonesia
Bagi Indonesia, dinamika global CCUS di 2025 memberi banyak pelajaran. Sebagai negara dengan industri semen, pupuk, pembangkit listrik fosil, serta potensi penyimpanan geologis yang besar, CCUS bisa menjadi alat transisi, terutama untuk sektor yang sulit didekarbonisasi.
Namun pengalaman global menunjukkan satu hal jelas: CCUS hanya berkembang di negara dengan kepastian kebijakan, model bisnis yang bankable, dan integrasi dengan strategi iklim nasional. Tanpa itu, CCUS berisiko menjadi proyek mahal tanpa dampak signifikan.
Menuju 2026: Dari Momentum ke Skala
Tahun 2025 penting bukan karena CCUS tiba-tiba menyelesaikan krisis iklim, tetapi karena ekosistemnya mulai matang. Proyek tidak lagi berhenti di atas kertas, jaringan mulai terhubung, dan karbon benar-benar ditangkap serta disimpan dalam jumlah besar.
Tantangan berikutnya adalah skala. Untuk memberi dampak iklim nyata, CCUS harus bergerak dari jutaan menuju miliaran ton per tahun. Itu menuntut kebijakan yang konsisten, kontrak jangka panjang, transparansi iklim, serta keseimbangan dengan percepatan energi terbarukan.
Jika dikelola dengan tepat, 2025 bisa dikenang sebagai tahun ketika CCUS berhenti menjadi sekadar wacana teknologi dan mulai berfungsi sebagai bagian nyata dari solusi iklim global. Jika tidak, jurang antara ambisi dan dampak akan semakin lebar.
