Jakarta, KabarHijau.com – Pemerintah Jerman akan mengambil alih kepemimpinan Amerika Serikat dalam program pembiayaan Kemitraan Transisi Energi Berkeadilan atau Just Energy Transition Partnership (JETP). Keputusan ini menyusul langkah Presiden Donald Trump yang menarik AS dari inisiatif pembiayaan iklim global.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman (BMZ) mengonfirmasi bahwa mereka akan mengisi kekosongan peran yang ditinggalkan AS. Bersama Jepang, Jerman berkomitmen memobilisasi dana senilai US$20 miliar untuk mendukung transisi energi di Indonesia.
Menurut sumber Bloomberg, mitra JETP dijadwalkan bertemu pada Februari atau Maret 2025 untuk meninjau prospek program ini secara keseluruhan. Pertemuan tersebut juga akan membahas masa depan pendanaan JETP di negara lain, termasuk US$15,5 miliar untuk Vietnam dan US$9,3 miliar untuk Afrika Selatan.
Mundurnya AS dan Dampaknya bagi Transisi Energi
Mundurnya AS dari JETP menambah tantangan baru dalam diplomasi iklim global. Sebelumnya, Presiden Trump telah menghentikan sebagian bantuan keuangan untuk negara berkembang dan memulai kembali proses keluar dari Perjanjian Paris—untuk kedua kalinya.
Menurut Putra Adhiguna, Managing Director di Energy Shift Institute, dampak dari keputusan ini masih bisa dikelola selama negara-negara lain tetap berkomitmen. “Uni Eropa dan Jepang masih menjadi aktor penting dalam pendanaan transisi energi,” ujarnya.
Program JETP, yang digagas pada 2021, awalnya dianggap sebagai terobosan besar dalam pendanaan transisi energi. Namun, hingga kini program ini masih mengalami hambatan, terutama karena lambannya pencairan dana dan perubahan politik di negara penerima, seperti Indonesia dan Vietnam.
Salah satu tantangan utama adalah penutupan pembangkit listrik batu bara yang masih memiliki masa operasi puluhan tahun. JETP hanya mencakup sebagian kecil dari total investasi yang dibutuhkan. Tahun lalu, investasi global untuk transisi energi mencapai US$2 triliun, tetapi masih jauh dari cukup untuk mencapai target net-zero emissions pada 2050.
Komitmen Jerman, Jepang, dan Uni Eropa
Di tengah ketidakpastian ini, negara-negara seperti Kanada, Jerman, dan Prancis akan menghadapi pemilu tahun ini, yang berpotensi mengubah arah kebijakan mereka terhadap pendanaan transisi energi.
Namun, Uni Eropa tetap berkomitmen. Diana Acconcia, Direktur Hubungan Internasional dan Keuangan Iklim di Komisi Eropa, menegaskan bahwa mereka masih akan mendukung JETP meskipun AS telah mundur.
Sementara itu, Kementerian Keuangan Jepang juga memastikan dukungan mereka terhadap transisi energi Indonesia tetap berjalan. Jepang telah berperan dalam beberapa proyek energi hijau, termasuk pengembangan teknologi co-firing biomassa dan hidrogen hijau di Asia Tenggara.
Dengan dinamika baru ini, masa depan JETP kini bergantung pada komitmen Jerman, Jepang, dan Uni Eropa dalam menutup celah pendanaan yang ditinggalkan AS.
