KabarHijau.com – Sebuah studi terbaru membawa kabar yang mengkhawatirkan bagi upaya mitigasi perubahan iklim. Para ilmuwan menemukan bahwa kenaikan suhu air laut dapat secara signifikan mengurangi kemampuan tanaman bawah air untuk menyimpan karbon dioksida (CO2) dalam jangka panjang.
Penelitian ini melibatkan kontribusi dari para ilmuwan Leibniz Centre for Tropical Marine Research (ZMT) di Jerman, serta sejumlah peneliti dari Spanyol. Mereka mengamati dampak peningkatan suhu air laut terhadap karbon organik terlarut yang dilepaskan oleh padang lamun (seagrass) dan alga laut.
Proses penyerapan karbon oleh ekosistem laut ini sebenarnya cukup kompleks. Ketika lamun dan alga menyerap CO2 dari atmosfer, sebagian karbon tersebut digunakan untuk mendukung pertumbuhan daun dan rizoma (rimpang), sebagian lagi terkubur di dasar laut selama berabad-abad atau ribuan tahun, dan bagian ketiga dilepaskan kembali ke air sebagai karbon organik terlarut.
Dari karbon yang terlarut ini, beberapa di antaranya sangat mudah diurai oleh mikroorganisme laut. Namun, sebagian lainnya jauh lebih resisten terhadap degradasi (sulit terurai) sehingga dapat bertahan di air laut selama berminggu-minggu, bertahun-tahun, bahkan hingga berabad-abad.
Hasil studi yang baru saja dipublikasikan di jurnal Communications Earth & Environment ini menunjukkan bahwa seiring dengan peningkatan suhu air laut, proporsi CO2 organik terlarut yang sulit terurai dan mampu bertahan lama di laut ini menurun drastis. Padahal, senyawa karbon yang tahan lama inilah yang menjadi kunci utama bagi penyimpanan karbon jangka panjang.
Eksperimen di Tangki Raksasa
Untuk membuktikan hal ini, para ilmuwan menjalankan eksperimen menggunakan tangki air laut besar yang dikenal sebagai mesokosmos, di mana kondisi lingkungan dapat dikontrol dan divariasikan. Dalam tangki-tangki tersebut, para peneliti menguji tiga tingkat suhu air yang berkisar antara 24 hingga 28 derajat Celcius selama periode 40 hari.
Hasilnya? Ketika suhu air ditingkatkan sebesar 4 derajat Celcius, proporsi senyawa karbon CO2 yang sulit terurai (tahan lama) menurun rata-rata hingga 28%. Di saat yang bersamaan, proporsi senyawa karbon yang mudah diurai oleh mikroorganisme justru meningkat secara signifikan.
Mengapa Penemuan Ini Sangat Penting?
Tim peneliti menekankan bahwa penemuan ini memiliki implikasi krusial terhadap model prediksi iklim yang ada saat ini. Selama ini, banyak pemodelan iklim yang berasumsi bahwa ekosistem pesisir seperti padang lamun secara permanen mampu menyerap dan menyimpan CO2 atmosfer dalam jumlah yang sangat besar secara konstan.
“Padang lamun dan hutan kelp (rumput laut raksasa) selama ini dianggap sebagai penyerap karbon alami yang dapat diandalkan,” ungkap penulis utama studi, Alba Yamuza-Magdaleno dari University of Cádiz, Spanyol. “Namun, jika lautan terus memanas, ekosistem ini bisa saja menyimpan karbon jauh lebih sedikit dalam jangka panjang dibandingkan dari apa yang kita perkirakan sebelumnya.”
Hauke Reuter, dari Kelompok Peneliti Ekologi Spasial dan Interaksi di ZMT, menambahkan pentingnya studi lanjutan di alam liar. “Saat ini kita sangat membutuhkan observasi jangka panjang di area pesisir alami untuk bisa menilai dengan lebih baik sejauh mana pemanasan laut benar-benar memengaruhi kemampuan penyimpanan karbon mereka di dunia nyata,” tegasnya.
Temuan ini kembali menjadi pengingat keras bahwa membiarkan suhu bumi terus meningkat tidak hanya mencairkan es di kutub, tetapi juga merusak sistem pertahanan alami bumi dalam melawan perubahan iklim itu sendiri.
