Inovasi Hijau

Pesawat Kini Bisa Mengudara Pakai Bahan Bakar Olahan Polusi Karbon Buatan Twelve

30
Avtur Komersial dari Tangkapan Karbon
Gambar ilustrasi

WASHINGTON, KabarHijau.com – Perusahaan teknologi iklim asal Amerika Serikat, Twelve, secara resmi telah membuka AirPlant One di Moses Lake, Washington. Fasilitas ini menjadi tonggak sejarah sebagai pabrik skala komersial pertama di AS yang memproduksi Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF) menggunakan bahan baku karbon dioksida (CO2) yang ditangkap, air, dan listrik terbarukan.

Fasilitas inovatif ini memproduksi bahan bakar E-Jet, yakni bahan bakar penerbangan sintetis berbasis power-to-liquid (PtL) yang dirancang sebagai pengganti langsung (drop-in replacement) untuk bahan bakar jet konvensional. Selain itu, pabrik ini juga menghasilkan E-Naphtha, bahan baku kimia rendah karbon yang digunakan secara luas dalam berbagai produk industri dan konsumen.

Siap Mengudara Bersama Alaska Airlines

Menurut keterangan resmi Twelve, AirPlant One saat ini telah memproduksi bahan bakar jet yang memenuhi standar sertifikasi ASTM. Artinya, bahan bakar ini dapat langsung digunakan pada pesawat, mesin, dan infrastruktur bandara yang ada saat ini tanpa memerlukan modifikasi apa pun.

Maskapai Alaska Airlines dijadwalkan akan menggunakan bahan bakar E-Jet ini untuk penerbangan domestik reguler mereka. Langkah ini menjadikannya salah satu penerapan komersial pertama dari e-fuel yang diproduksi dalam skala besar di Amerika Serikat.

Proyek ambisius ini juga mendapat dukungan penuh melalui komitmen jangka panjang dari Alaska Airlines dan Microsoft, yang berperan penting dalam mendanai dan mengembangkan fasilitas tersebut.

Skalabilitas Bahan Bakar Power-to-Liquid (PtL)

Berbeda dengan metode produksi SAF berbasis bio konvensional yang bergantung pada hasil pertanian, proses produksi Twelve menggunakan pendekatan yang sepenuhnya berbeda:

  • Bahan Baku Sintetis: Menggunakan CO2 yang ditangkap dari udara atau emisi, air, dan energi terbarukan untuk menghasilkan hidrokarbon sintetis.
  • Tanpa Lahan Pertanian: Memangkas kebutuhan penggunaan lahan yang luas sehingga tidak mengganggu rantai pasokan pangan.
  • Keamanan Energi: Meningkatkan kemandirian energi melalui produksi domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekstraksi bahan bakar fosil serta fluktuasi pasar minyak dunia.

Twelve menegaskan bahwa pendekatan ini menawarkan jalan keluar yang sangat skalabel untuk dekarbonisasi industri penerbangan global.

Manfaat Lingkungan yang Signifikan

Penggunaan bahan bakar E-Jet dari Twelve diperkirakan mampu memberikan dampak positif yang masif bagi lingkungan, antara lain:

  • Penurunan Emisi: Mengurangi emisi siklus hidup (lifecycle emissions) hingga 90% dibandingkan dengan bahan bakar jet konvensional.
  • Stabilitas Ekonomi: Menawarkan stabilitas harga bahan bakar dalam jangka panjang.
  • Produk Turunan Ramah Lingkungan: Selain bahan bakar jet, produksi E-Naphtha di fasilitas ini dapat menggantikan nafta berbasis fosil dalam pembuatan produk sehari-hari, mulai dari plastik, kemasan, tekstil, hingga barang konsumsi lainnya.

Pembukaan AirPlant One merupakan pencapaian besar bagi sektor e-fuel yang sedang berkembang pesat dan membuktikan kelayakan komersial dari produksi bahan bakar power-to-liquid di Amerika Serikat. Ke depannya, Twelve menyatakan bahwa fasilitas ini akan menjadi fondasi kuat untuk ekspansi perusahaan seiring dengan terus meningkatnya permintaan global akan bahan bakar penerbangan rendah karbon. []

Exit mobile version