Isu Terkini

Malaysia Didukung untuk Pimpin Transformasi Energi ASEAN 2025

375
“Ketergantungan pada bahan bakar fosil masih sangat kuat. Tanpa intervensi besar, bahan bakar fosil diperkirakan akan memasok hingga 75 persen kebutuhan energi ASEAN di masa depan. Dampaknya tidak hanya pada peningkatan emisi karbon, tetapi juga meningkatkan kerentanan ekonomi kawasan,” kata Fabby Tumiwa pada Seminar National “Accelerating Energy Transition in Southeast Asia and the Role of ASEAN Chairmanship Malaysia”, Kamis (20/2/2025) di Putrajaya, Malaysia. Photo: IESR

Putrajaya, KabarHijau.com – Institute for Essential Services Reform (IESR) melalui Koalisi Transisi Energi di Asia Tenggara (Southeast Asia Energy Transition Coalition, SETC) mendorong Malaysia, sebagai Ketua ASEAN 2025, untuk memimpin transformasi energi di kawasan sebagai langkah mitigasi krisis iklim.

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan Malaysia antara lain memperkuat komitmen dan kebijakan regional, meningkatkan investasi energi bersih, serta membangun ekosistem industri energi terbarukan.

Menurut Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa, ASEAN masih tertinggal dalam transisi energi meskipun memiliki potensi energi terbarukan lebih dari 17 terawatt. Saat ini, porsi energi terbarukan dalam total pasokan energi primer ASEAN hanya 15,6 persen, jauh dari target 23 persen pada 2025.

“Ketergantungan ASEAN pada bahan bakar fosil masih sangat tinggi. Tanpa intervensi besar, bahan bakar fosil akan memasok hingga 75 persen kebutuhan energi di masa depan, yang meningkatkan emisi karbon serta kerentanan ekonomi,” ujar Fabby dalam Seminar Nasional Accelerating Energy Transition in Southeast Asia and the Role of ASEAN Chairmanship Malaysia di Putrajaya.

Dampak Ketergantungan pada Bahan Bakar Fosil

Fabby mengungkapkan bahwa pada 2023, negara-negara ASEAN menghabiskan lebih dari USD 130 miliar untuk impor minyak, hampir empat kali lipat dari investasi dalam energi berkelanjutan. Selain itu, subsidi bahan bakar fosil mencapai lebih dari USD 105 miliar pada 2022.

Tanpa perubahan kebijakan, ASEAN diprediksi menjadi importir bersih gas alam pada 2027. Hal ini dapat meningkatkan pengeluaran impor bahan bakar fosil hingga lebih dari USD 140 miliar pada 2030, yang akan membebani anggaran nasional dan meningkatkan risiko geopolitik.

Agenda Transformasi Energi ASEAN

Untuk mengatasi tantangan ini, IESR mendorong ASEAN Energy Transformation Agenda yang berfokus pada empat pilar utama:

  1. Percepatan energi bersih, termasuk pembentukan ASEAN Just Energy Transition Partnership (ASEAN-JETP) dengan target pendanaan hingga USD 130 miliar per tahun hingga 2030.
  2. Penguatan ekosistem industri energi bersih, seperti ASEAN Clean Energy Industrial Strategy untuk menarik investasi lebih dari USD 100 miliar dalam sektor sel surya, kendaraan listrik, baterai, turbin angin, dan hidrogen hijau.
  3. Peningkatan investasi hijau, melalui perluasan taksonomi hijau ASEAN dan penguatan mekanisme keuangan berkelanjutan.
  4. Pengembangan tenaga kerja dan inovasi, termasuk pembentukan ASEAN Clean Energy Workforce Initiative dan ASEAN Clean Energy Research and Development Center.

Malaysia Berperan Strategis dalam Kepemimpinan ASEAN

Dr. Norasikin Ahmad Ludin dari Solar Energy Research Institute (SERI) Universiti Kebangsaan Malaysia menegaskan bahwa Malaysia memiliki peluang strategis untuk memimpin integrasi dan inovasi dalam transisi energi ASEAN.

“Selama kepemimpinan Malaysia di ASEAN, kami berharap ada fokus pada perluasan energi terbarukan, penguatan kebijakan, dan peningkatan kerja sama regional,” ujarnya.

Dr. Nora Yusma Binti Mohamed Yusoff, Direktur Institute of Energy Policy and Research (IEPRe), menambahkan bahwa transisi energi harus didukung oleh transformasi teknologi dan kebijakan perdagangan hijau untuk mengurangi emisi karbon serta mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Dengan kepemimpinan Malaysia pada 2025, ASEAN diharapkan mampu mempercepat transisi energi yang inklusif, berkelanjutan, dan menguntungkan bagi seluruh kawasan.

Exit mobile version