KabarHijau.com – TikTok, platform media sosial milik ByteDance, telah menjadi salah satu aplikasi paling populer di dunia. Dengan lebih dari 1 miliar pengguna yang terpesona oleh konten video pendeknya, TikTok berhasil mengubah cara orang berinteraksi dengan media digital. Namun, di balik kesuksesan tersebut, TikTok menghadirkan tantangan besar bagi lingkungan: jejak karbon yang sangat besar.
Operasional TikTok yang bergantung pada streaming video membutuhkan konsumsi energi yang sangat tinggi. Akibatnya, platform ini menghasilkan emisi karbon sekitar 50 juta ton CO₂ setiap tahun, angka yang hampir setara dengan emisi karbon tahunan Yunani, yaitu 51,67 juta ton. Saat dunia semakin khawatir dengan dampak perubahan iklim, jejak karbon TikTok menjadi sorotan global.
Video Streaming dan Konsumsi Energi
Streaming video adalah salah satu aktivitas paling intensif energi di internet. TikTok, dengan algoritmanya yang dirancang untuk menarik perhatian pengguna dalam waktu lama, menjadi pemicu utama konsumsi energi digital. Rata-rata pengguna TikTok menghabiskan 95 menit setiap hari dan membuka aplikasi ini 19 kali sehari. Durasi penggunaan yang tinggi ini berdampak signifikan pada konsumsi energi, terutama di negara-negara yang masih bergantung pada energi berbasis fosil, seperti Amerika Serikat.
Menurut data dari 8 Billion Trees, operasional TikTok di Amerika Serikat saja menghasilkan 64,26 juta kilogram CO₂ per tahun, setara dengan jejak karbon sekitar 4.000 warga AS. Secara global, jejak karbon TikTok mencapai 50 juta ton CO₂, yang menjadikannya salah satu kontributor besar emisi karbon di sektor teknologi.
Namun, berbeda dari perusahaan teknologi besar lainnya seperti Meta dan Google, TikTok belum mempublikasikan data rinci terkait emisi karbonnya. Kurangnya transparansi ini memicu pertanyaan tentang sejauh mana TikTok berkomitmen terhadap tanggung jawab lingkungan.
Perbandingan dengan Platform Lain
Meskipun TikTok merupakan platform yang relatif muda, emisinya jauh melampaui beberapa pesaingnya. Misalnya, operasional Facebook di Amerika Serikat menghasilkan 107,43 juta kilogram CO₂ per tahun, yang setara dengan jejak karbon 6.800 warga AS.
Namun, perbedaan utama terletak pada emisi per pengguna. Rata-rata pengguna TikTok menghasilkan emisi karbon setara dengan mengemudi mobil berbahan bakar bensin sejauh 123 mil setiap tahun. Ini lebih tinggi dibandingkan YouTube (102 mil) dan Instagram (82,8 mil). Dengan basis pengguna yang besar, dampak kumulatif TikTok terhadap lingkungan menjadi sangat signifikan.
Mengapa Jejak Karbon TikTok Penting?
TikTok, seperti platform media sosial lainnya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun, biaya lingkungan dari platform ini sering kali luput dari perhatian. Operasional TikTok sangat bergantung pada pusat data yang intensif energi, yang sebagian besar masih menggunakan bahan bakar fosil seperti batu bara dan gas alam.
Saat ini, TikTok hanya memiliki satu pusat data yang sepenuhnya menggunakan energi terbarukan, yaitu di Norwegia. Sisanya bergantung pada sumber energi konvensional. Ketergantungan ini menjadi penyebab utama dari jejak karbon platform tersebut.
Selain itu, kurangnya standar pelaporan emisi yang komprehensif untuk perusahaan teknologi memperburuk masalah ini. Tidak seperti Meta dan Google, yang secara rutin merilis laporan keberlanjutan, TikTok cenderung enggan berbicara tentang dampak lingkungannya.
Komitmen Net Zero ByteDance
Sebagai induk perusahaan, ByteDance telah berkomitmen untuk mencapai net zero emissions dalam operasional bisnisnya pada tahun 2030. Target ini mencakup pengurangan emisi operasional hingga 90% dan transisi penuh ke energi terbarukan di semua pusat data. Sisa emisi akan diimbangi melalui program carbon offset.
Meskipun tujuan ini ambisius, kemajuan TikTok menuju net zero terbilang lambat. Ketergantungan pada bahan bakar fosil dan pertumbuhan basis pengguna yang pesat menjadi tantangan utama dalam mencapai target ini. Untuk berhasil, ByteDance perlu melakukan investasi besar-besaran dalam infrastruktur energi terbarukan dan mencari solusi inovatif untuk mengurangi konsumsi energi.
Tekanan untuk Transparansi dan Tindakan
Dunia digital menghadapi tekanan besar untuk mengurangi dampaknya terhadap lingkungan. Perusahaan seperti Google dan Meta telah membuat kemajuan signifikan. Google, misalnya, telah mencapai netralitas karbon sejak 2007 dan menargetkan operasional sepenuhnya bebas karbon pada 2030. Meta juga berkomitmen untuk mencapai net zero di seluruh rantai nilai pada tahun yang sama.
Namun, TikTok tampaknya tertinggal dalam hal transparansi dan langkah-langkah keberlanjutan. Tanpa peta jalan yang jelas dan laporan kemajuan yang rutin, kepercayaan pengguna dan pemangku kepentingan terhadap komitmen lingkungan TikTok bisa terancam.
Peran Pengguna dan Regulator
Perubahan signifikan membutuhkan kerja sama antara TikTok, pengguna, dan regulator. Pengguna dapat berkontribusi dengan mengurangi waktu layar atau memilih aktivitas offline, yang secara kolektif dapat menurunkan konsumsi energi platform ini. Regulator juga perlu menetapkan standar pelaporan emisi yang lebih ketat untuk memastikan perusahaan teknologi bertanggung jawab atas dampak lingkungan mereka.
Kesimpulan
Jejak karbon TikTok yang mencapai 50 juta ton CO₂ per tahun adalah peringatan bagi dunia digital. Meskipun teknologi memiliki potensi besar untuk memajukan masyarakat, biaya lingkungannya tidak bisa diabaikan. TikTok, sebagai salah satu platform paling berpengaruh, harus mengambil langkah nyata untuk mengurangi dampaknya terhadap planet ini. Transisi ke energi terbarukan, transparansi yang lebih baik, dan edukasi pengguna adalah kunci untuk mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan.
