Analisis

Ilusi Klaim Hijau: Mengapa Sertifikat Energi Terbarukan (REC) Mulai Kehilangan Tajinya

33
×

Ilusi Klaim Hijau: Mengapa Sertifikat Energi Terbarukan (REC) Mulai Kehilangan Tajinya

Sebarkan artikel ini
Gambar Ilustrasi

Selama bertahun-tahun, Sertifikat Energi Terbarukan (REC – Renewable Energy Certificates) seolah menjadi “peluru perak” bagi korporasi yang ingin tampil ramah lingkungan. Logikanya sangat linear dan memanjakan: sebuah pabrik atau kawasan komersial yang mengkonsumsi listrik dalam jumlah masif cukup membeli REC dari penyedia layanan. Seketika, kotak persyaratan keberlanjutan dicentang, laporan Environmental, Social, and Governance (ESG) terlihat hijau berseri, dan semua pihak merasa tugas menyelamatkan bumi telah tuntas.

Namun, di balik kenyamanan akuntansi tersebut, model mitigasi iklim ini mulai menunjukkan keretakannya.

Kritik terhadap REC bukanlah bentuk penolakan terhadap urgensi energi terbarukan. Sebaliknya, ini adalah sebuah gugatan terhadap instrumen pasar yang makin kesulitan menjawab satu pertanyaan fundamental dan tak bisa ditawar: Apakah emisi gas rumah kaca di dunia nyata, secara fisik, benar-benar berkurang?

Cacat Logika di Era Transisi

Untuk memahami masalahnya, kita harus melihat niat awal penciptaan REC. Di masa lalu, ketika teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atau Bayu (PLTB) masih sebatas perintisan, berbiaya tinggi, dan berisiko, menjual “atribut lingkungan” melalui REC adalah mekanisme subsidi silang yang brilian. Ada asumsi logis bahwa aliran dana dari pembelian REC akan membiayai additionality—penciptaan kapasitas energi bersih baru yang tidak akan terbangun tanpa insentif tersebut.

Sayangnya, asumsi itu kini telah usang di banyak pasar energi.

Saat ini, sebagian besar REC yang diperjualbelikan sering kali berasal dari infrastruktur berskala raksasa yang sudah beroperasi bertahun-tahun, pendanaannya sudah lunas, dan secara ekomomi sudah sangat menguntungkan. Ketika sebuah perusahaan menebus REC dari pembangkit eksisting semacam ini, tidak ada satu megawatt pun kapasitas energi bersih baru yang ditambahkan ke jaringan listrik. Keputusan pembelian itu tidak mengubah bauran energi nasional; ia hanya merapikan catatan pembukuan perusahaan pembeli.

Ketimpangan Antara Kertas dan Realita Fisik

Ketimpangan ini menjadi preseden buruk ketika dihadapkan pada realita lonjakan konsumsi energi kita. Di Indonesia, ambisi hilirisasi industri, masifnya pembangunan pusat data (data center), hingga elektrifikasi transportasi memberikan beban tambahan yang luar biasa pada grid (jaringan listrik). Dan faktanya, beban puncak tersebut masih harus dipikul oleh pembangkit listrik berbahan bakar fosil.

Mengklaim netralitas karbon dengan mengandalkan REC tahunan—yang terputus dari realitas aliran elektron fisik (unbundled RECs)—di tengah kepulan emisi cerobong asap yang terus meningkat adalah sebuah kontradiksi yang tak lagi bisa ditoleransi oleh sains.

Oleh karena itu, pengawasan publik dan investor kini makin tajam. Pertanyaan yang muncul di ruang-ruang rapat direksi tak lagi sekadar “bagaimana cara kita comply?”, melainkan “bagaimana cara kita berdampak nyata?”.

Kembali ke Hasil Fisik yang Terukur

Pergeseran paradigma ini membawa instrumen kredit karbon berintegritas tinggi (high-integrity carbon credits) kembali ke panggung utama.

Menghadapi krisis iklim membutuhkan intervensi teknis yang hasilnya instan, terukur, dan permanen. Alih-alih sekadar membeli sertifikat dari pembangkit yang sudah ada, modal transisi harus diarahkan pada proyek-proyek yang secara fisik menyerap atau mencegah emisi baru. Intervensi nyata di lapangan—seperti teknologi pengolahan limbah biomassa cangkang sawit menjadi briket bernilai kalori tinggi untuk substitusi batubara, atau konversi limbah organik menjadi biochar yang secara permanen mengunci karbon di dalam tanah—adalah contoh langkah presisi yang memberikan kepastian metrik penurunan emisi. Ini adalah bentuk additionality yang tidak bisa diperdebatkan.

Tentu, mendorong adopsi listrik bersih secara fisik tetap menjadi agenda vital untuk membenahi arsitektur kelistrikan jangka panjang. Namun, bagi korporasi yang terus memproduksi emisi sisa (residual emissions) setiap detiknya, mengandalkan REC saja sudah tidak relevan. REC kini lebih condong sebagai alat kepatuhan administratif dan sinyal intensi, bukan cerminan aksi iklim yang agresif.

Apa yang sedang kita saksikan di lanskap keberlanjutan global hari ini adalah sebuah penyeimbangan ulang yang esensial. Titik berat strategi iklim sedang dikalibrasi; ditarik dari sekadar pencatatan akuntansi, menuju pencapaian hasil fisik yang nyata.

Di tengah krisis iklim yang makin menghimpit, tenggat waktu kita tidak bisa dinegosiasi dengan laporan di atas kertas. Pertanyaan pamungkasnya kini tersisa satu: Apakah strategi keberlanjutan perusahaan Anda dirancang hanya untuk mempercantik etalase laporan tahunan, atau benar-benar untuk mencegah emisi merusak atmosfer kita saat ini juga?