Penelitian terbaru mengungkap dampak signifikan dari perubahan geografis rantai pasok global terhadap emisi karbon di negara berkembang.
KabarHijau.com – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Energy Economics mengungkap bahwa restrukturisasi rantai pasok global (Global Supply Chains/GSCs) telah meningkatkan emisi CO₂ di negara-negara berkembang secara signifikan. Studi ini dilakukan oleh Yafei Yang, Hui Wang, dan Peng Zhou dari China University of Petroleum, yang menganalisis data dari 204 negara berkembang selama periode 2010–2019.
Dengan menggunakan model multi-regional input-output (MRIO) dan teknik analisis dekomposisi struktural, penelitian ini menemukan bahwa pergeseran geografis dalam rantai pasok global menyebabkan peningkatan emisi sebesar 2.695,9 Mt dari relokasi sumber bahan baku dan 1.622,2 Mt dari relokasi produksi akhir.
Dampak Berbeda di Berbagai Kawasan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa kawasan mengalami peningkatan emisi lebih besar dibandingkan yang lain. China, Asia Tenggara, Asia Tengah, dan Afrika Sub-Sahara mencatat lonjakan emisi terbesar akibat perpindahan produksi dalam GSCs. Sementara itu, kawasan Asia Selatan mengalami peningkatan emisi terutama akibat relokasi sumber bahan baku.
Sebaliknya, pergeseran rantai pasok dari Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika Utara justru berkontribusi pada penurunan emisi di kawasan tersebut. Ini menunjukkan bahwa restrukturisasi geografis rantai pasok memiliki dampak heterogen terhadap emisi karbon di berbagai wilayah.
Rantai Pasok Global dan Tantangan Lingkungan
Rantai pasok global telah menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi sumber utama emisi karbon. Pada tahun 2022, sekitar 60% dari total emisi global berasal dari rantai pasok global, yang mencakup 80% perdagangan dunia dan berkontribusi 50% terhadap PDB global.
Menurut laporan McKinsey & Company (2022), rantai pasok global diprediksi akan terus berkembang, yang berpotensi meningkatkan dampak ekonomi dan emisi karbon. Oleh karena itu, penelitian ini menyoroti perlunya kebijakan yang lebih efektif untuk mengurangi emisi selama proses integrasi negara berkembang ke dalam rantai pasok global.
Implikasi Kebijakan
Studi ini memberikan wawasan penting bagi pembuat kebijakan dalam merancang strategi mitigasi emisi yang lebih tepat sasaran. Dengan memahami perbedaan dampak antara relokasi sumber bahan baku dan produksi akhir, negara berkembang dapat mengadopsi kebijakan yang lebih strategis untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan lingkungan.
Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa perubahan dalam rantai pasok global bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga memiliki konsekuensi lingkungan yang harus diperhitungkan secara serius dalam perumusan kebijakan global.










