Energi Hijau

Biometan: Sumber Energi Terbarukan dari Limbah Pertanian untuk Transportasi yang Lebih Berkelanjutan

533
Tanaman jagung. Photo: Pexels

KabarHijau.com – Banyak proyek penelitian yang sedang dilakukan untuk menemukan sumber energi baru. Salah satunya adalah biomethane atau biometan, gas pembakar terbarukan yang diperoleh dari pemurnian biogas. Dalam hal ini, biometan berasal dari limbah agri-food (pertanian dan pangan). Saat ini, pusat teknologi Eurecat tengah berpartisipasi dalam proyek Eropa Life Chandelier, yang bertujuan untuk menguji produksi biometan guna mendukung keberlanjutan sektor transportasi dan pembangunan pedesaan.

Apa Itu Biometan dan Bagaimana Cara Pembuatannya?

Biomethane atau biometan diperoleh dari pemurnian biogas, yang merupakan alternatif dari gas alam fosil. Biometan dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, pemanas, dan bahan bakar kendaraan.

Biometan diproduksi dari limbah organik seperti limbah pertanian, peternakan, sisa industri, lumpur limbah, dan sampah organik domestik. Dengan demikian, biometan menjadi bahan bakar yang ramah lingkungan dan ekonomis yang mendukung dekarbonisasi energi dan ekonomi sirkular.

Proses Produksi Biometan

Proses pembuatan biometan dapat diringkas dalam beberapa langkah berikut:

  1. Biogas diperoleh dari dekomposisi limbah organik.
  2. Impuritas seperti karbon dioksida, kelembaban, hidrogen sulfida, amonia, dan senyawa organik volatil dihilangkan.
  3. Gas yang dihasilkan kemudian dimurnikan hingga mencapai kemurnian sekitar 95% metana.
  4. Biometan yang telah dimurnikan disaring untuk menghilangkan komponen yang tidak sesuai untuk digunakan.
  5. Biometan kemudian disuntikkan ke dalam jaringan gas alam atau diangkut dengan truk tangki kriogenik.

Proyek Life Chandelier

Proyek Life Chandelier bertujuan untuk “mengembangkan solusi yang kompetitif dalam biaya dan fleksibel dalam hal bahan baku,” sebagaimana dijelaskan oleh pengembang. Bahan baku utama dalam proyek ini adalah limbah agri-food.

“Berbasis teknologi modular dan inovatif, yang berkontribusi pada pengurangan emisi gas rumah kaca hingga 80% serta memungkinkan produksi biometan yang menguntungkan di daerah pedesaan untuk transportasi berkelanjutan,” kata Frederic Clarens, Direktur Unit Limbah, Energi, dan Dampak Lingkungan di Eurecat, seperti dikutip Noticias Ambientales .

Dalam proyek ini, mereka berharap dapat mendemonstrasikan produksi biogas dan biometan kendaraan yang teroptimasi dan dapat dilacak menggunakan teknologi blockchain, serta menguntungkan untuk pabrik skala kecil hingga menengah.

Dengan inovasi ini, biometan diharapkan dapat menjadi solusi yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan energi masa depan dan mendukung sektor transportasi yang lebih ramah lingkungan.

Exit mobile version