Ekonomi Hijau

India Turunkan Harga Beras untuk Dorong Produksi Etanol

611
Ilustrasi beras. (Sumber : rawpixel.com)

New Delhi, KabarHijau.com – Pemerintah India merevisi kebijakan penjualan stok beras melalui skema Open Market Sale Scheme (Domestic) (OMSS(D)) tahun 2024-2025 dengan menurunkan harga cadangan beras menjadi Rs 2.250 (sekitar Rp 425.000) per kuintal untuk distileri produsen etanol. Harga sebelumnya adalah Rs 2.800 (sekitar Rp 526.000) per kuintal.

Beras dari Food Corporation of India (FCI) hanya tersedia bagi distileri yang terdaftar sebagai pemasok etanol ke Perusahaan Pemasaran Minyak (OMC) dan memiliki kontrak resmi. Alokasi beras didasarkan pada jumlah etanol dalam kontrak tersebut. Penjualan beras dibatasi total 2,4 juta metrik ton, dengan prioritas penggunaan beras lama. Tender Cycle 3 (C3) untuk 1,1 miliar liter etanol pada Ethanol Supply Year (ESY) 2024-2025 dikhususkan untuk etanol dari beras FCI. Harga yang sama juga berlaku untuk penjualan beras ke pemerintah daerah, korporasi negara, dan dapur komunitas tanpa e-lelang. Kebijakan ini berlaku hingga 30 Juni 2025.

Penurunan harga ini diharapkan meningkatkan produksi etanol setelah sebelumnya pada Agustus 2024 pemerintah mencabut larangan penjualan beras untuk distileri etanol yang diberlakukan tahun 2023. Meskipun pemerintah telah mengizinkan pembelian 2,3 juta ton beras dari stok cadangan pusat melalui e-lelang antara Agustus-Oktober 2024, produsen etanol tidak membelinya karena alasan finansial.

Pada Desember 2024, pencampuran etanol dalam bensin mencapai rekor 18,2%, dengan rata-rata kumulatif November-Desember 2024 sebesar 16,4%, persentase bulanan tertinggi. Pasokan etanol dalam program Ethanol Blended Petrol (EBP) meningkat signifikan dari 380 juta liter (ESY 2013-2014) menjadi 7,074 miliar liter (ESY 2023-2024), dengan rata-rata pencampuran 14,6%.

Pemerintah menargetkan pencampuran etanol 20% pada ESY 2025-2026, yang membutuhkan sekitar 10,16 miliar liter etanol, atau 13,5 miliar liter termasuk kebutuhan lain. Langkah penurunan harga beras ini diharapkan menjadi dorongan besar bagi sektor energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Sumber: bioenergytimes.com

Exit mobile version