Beijing, KabarHijau.com – Tiongkok tidak pernah berhenti berupaya menuju pembangunan hijau dan tetap berkomitmen untuk mendorong transisi rendah karbon secara global, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok pada Kamis (16/01).
Juru bicara Guo Jiakun menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi pers harian saat ditanya tentang peran Tiongkok dalam tata kelola global terkait perubahan iklim dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut Kementerian Ekologi dan Lingkungan, Tiongkok telah menyerahkan dua laporan kepada sekretariat Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang merinci aksi iklim dan kemajuan yang telah dicapai. Laporan tersebut mencakup Biennial Transparency Report pertama tentang perubahan iklim dan laporan pembaruan dua tahunan keempat, yang keduanya disampaikan sesuai jadwal pada akhir 2024.
Menyoroti bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global utama, Guo mengatakan bahwa Tiongkok selalu memberi perhatian besar pada isu ini dan merupakan salah satu pihak awal dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim, sekaligus salah satu penandatangan dan pengesah awal Perjanjian Paris.
Ia menambahkan bahwa laporan tersebut menunjukkan profesionalisme dan transparansi dalam berbagi informasi, serta menghadirkan pandangan multidimensi tentang kebijakan, pencapaian, dan pengalaman Tiongkok dalam tata kelola iklim.
“Di balik laporan-laporan ini terdapat tekad dan tindakan Tiongkok dalam merespons perubahan iklim secara aktif serta berpartisipasi dalam tata kelola iklim global,” ujar Guo.
Laporan tersebut mengindikasikan bahwa pada 2021, emisi karbon dioksida per unit PDB Tiongkok turun sebesar 50,9 persen dibandingkan tahun 2005, yang menjadi tahun dasar kontribusi iklim negara tersebut. Data publik menunjukkan bahwa hingga akhir 2023, kapasitas terpasang energi terbarukan di Tiongkok telah melampaui kapasitas pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil. Pada 2023 saja, ekspor produk angin dan fotovoltaik Tiongkok membantu mengurangi emisi karbon sebesar 810 juta ton di negara-negara penerima, jelas Guo.
Mengatasi perubahan iklim memerlukan respons kolektif dari semua negara, kata juru bicara itu, seraya menambahkan bahwa Tiongkok bersedia bekerja sama dengan semua pihak untuk menjunjung tinggi prinsip tanggung jawab bersama namun berbeda (common but differentiated responsibilities), menganut multilateralisme sejati, dan menjaga planet biru bersama melalui pembangunan hijau.
Sumber : Xinhua**
