Sains

Studi Baru: Material Bangunan Penyimpan Karbon Berpotensi Mengurangi Emisi Global

832
Gambar : Screenshot dokumen penelitian

KabarHijau.com – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Science mengungkapkan peran material bangunan penyimpan karbon dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan oleh akademisi dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Universitas California serta Departemen Ilmu Sistem Bumi Universitas Stanford.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa material bangunan memiliki potensi untuk menyimpan lebih dari 16 miliar ton karbon dioksida setiap tahunnya. Potensi besar ini dapat terealisasi jika material bangunan konvensional sepenuhnya digantikan oleh material alternatif yang mampu menyimpan karbon pada pembangunan infrastruktur baru.

Jika skenario ini diterapkan, diperkirakan sekitar 16,6 ± 2,8 Gt CO2 dapat dihilangkan setiap tahun—setara dengan sekitar 50% dari total emisi karbon dioksida akibat aktivitas manusia pada tahun 2021.

Material bangunan penyimpan karbon yang dikaji dalam penelitian ini meliputi kayu, plastik berbasis bio, semen karbonat, agregat berbasis karbonat, biochar sebagai pengisi semen, bata portlandite, bata berbasis serat biomassa, dan aspal berbasis bio.

Menurut penelitian tersebut, potensi penyimpanan karbon total dalam material bangunan sangat bergantung pada skala penggunaannya daripada kapasitas penyimpanan karbon per satuan massa.

Para peneliti juga mencatat keberadaan perusahaan seperti Carbon Upcycling, BluePlanet, dan O.C.O. Technology yang telah menawarkan material penyimpan karbon di pasar. Namun, mereka menegaskan perlunya produksi dalam skala besar agar kapasitas penyimpanan karbon dapat mencapai potensi maksimumnya.

Selain memproduksi dalam volume besar, material inovatif ini juga perlu diakui sebagai opsi yang layak oleh para pemangku kepentingan di industri konstruksi. Agar menjadi elemen dominan dalam sektor bangunan, material ini harus efektif secara biaya serta memberikan kinerja dan keamanan material yang setara dengan bahan konvensional.

Faktor kebijakan juga menjadi penentu percepatan adopsi material ini. Pemerintah dan badan pengatur dapat mendorong penggunaan material bangunan penyimpan karbon melalui insentif, kode bangunan, dan standar regulasi.

Penelitian ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara sektor penelitian, industri, dan pembuat kebijakan untuk mewujudkan masa depan konstruksi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Exit mobile version