KabarHijau.com – Microsoft mengambil langkah besar menuju keberlanjutan dengan menjalin kemitraan strategis bersama Re.green, sebuah perusahaan asal Brasil. Melalui kesepakatan ini, Microsoft akan mengamankan 3,5 juta kredit karbon selama 25 tahun, yang ditujukan untuk memulihkan lahan terdegradasi di berbagai wilayah Brasil. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk menyeimbangkan emisi karbon yang melonjak akibat pertumbuhan kecerdasan buatan (AI).
Lonjakan Emisi Akibat Pertumbuhan AI
Pertumbuhan pesat AI, terutama AI generatif, telah meningkatkan permintaan energi secara signifikan. Proses pelatihan dan implementasi model AI membutuhkan infrastruktur besar seperti pusat data yang sangat intensif energi. Akibatnya, emisi karbon Microsoft meningkat hampir 30% sejak 2020, dengan 96% dari jejak karbon perusahaan berasal dari emisi tidak langsung atau Scope 3.
Investasi Microsoft sebesar $80 miliar dalam pengembangan infrastruktur tahun ini mencerminkan skala pertumbuhan AI. Namun, hal ini juga menimbulkan tantangan besar dalam mencapai tujuan perusahaan untuk menjadi karbon negatif pada 2030.
Menurut studi Morgan Stanley, emisi gas rumah kaca (GRK) dari pusat data secara global diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat pada 2030 akibat perkembangan AI generatif. Di AS saja, ekspansi pusat data dapat meningkatkan emisi hingga 200 juta ton metrik per tahun, setara dengan lebih dari setengah dari pertumbuhan global.
Kemitraan dengan Re.green untuk Restorasi Hutan
Dalam upaya mengimbangi emisi, Microsoft bekerja sama dengan Re.green untuk memulihkan 33.000 hektar lahan terdegradasi di hutan Amazon dan Atlantik. Sejak dimulai pada Mei 2024, kemitraan ini telah menanam lebih dari 4,4 juta bibit tanaman asli dari 80 spesies di lahan seluas 11.000 hektar.
Kesepakatan terbaru pada 2025 menargetkan restorasi wilayah di barat Maranhão dan timur Pará (Amazon), serta selatan Bahia dan Vale do Paraíba (Hutan Atlantik). Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk menyerap karbon, tetapi juga meningkatkan konektivitas ekosistem, keanekaragaman genetik, dan proses alami seperti penyerbukan dan penyebaran biji.
Thiago Picolo, CEO Re.green, menyatakan, “Kolaborasi ini membuktikan bahwa pasar kredit karbon tidak hanya ada, tetapi juga memiliki potensi besar untuk tumbuh di Brasil.”
Menurut analisis Financial Times, nilai kesepakatan ini diperkirakan mencapai $200 juta.
Kritik Terhadap Kredit Karbon dan Tantangan Transparansi
Meski kredit karbon menjadi alat populer untuk mengimbangi emisi, pendekatan ini menuai kritik. Beberapa pihak menganggap penggunaan kredit karbon hanya menjadi “pencucian hijau” (greenwashing), karena perusahaan tetap menghasilkan emisi sambil mengalihkan tanggung jawab pengurangan ke pihak ketiga.
Microsoft juga menghadapi tuduhan kurang transparan dalam pelaporan emisinya. Analisis The Guardian menunjukkan bahwa emisi dari pusat data milik Microsoft, Google, Meta, dan Apple kemungkinan 7,62 kali lebih tinggi dibandingkan laporan resmi mereka. Hal ini disebabkan oleh penggunaan sertifikat energi terbarukan (REC) yang memungkinkan perusahaan mengklaim penggunaan energi hijau meski tidak digunakan secara langsung di lokasi.
Inovasi dan Keberlanjutan: Tantangan Besar Microsoft
Komitmen Microsoft terhadap inovasi AI dan keberlanjutan mencerminkan upaya perusahaan untuk menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan tanggung jawab lingkungan. Namun, pertumbuhan pesat AI berpotensi melampaui upaya mitigasi emisi yang ada.
Untuk mencapai target karbon negatif pada 2030, Microsoft perlu lebih transparan, akuntabel, dan sistematis dalam mengelola dampak lingkungannya. Langkah-langkah seperti kredit karbon dan investasi energi terbarukan merupakan awal yang baik, tetapi tantangan global akibat perkembangan AI memerlukan perubahan yang lebih mendalam.
Ikuti terus berita terbaru tentang teknologi dan keberlanjutan hanya di KabarHijau.com.
