Analisis

Top 4 Perusahaan Nikel yang Mendorong Elektrifikasi dan Energi Bersih di 2025

574
×

Top 4 Perusahaan Nikel yang Mendorong Elektrifikasi dan Energi Bersih di 2025

Sebarkan artikel ini
Paket baterai untuk Ford Mustang Mach-E ditampilkan selama konferensi pers di Romulus, Michigan, AS, pada 13 Februari 2023. (REUTERS/Rebecca Cook)

KabarHijau.com – Nikel adalah logam serbaguna yang menjadi kunci revolusi energi bersih, terutama dalam baterai kendaraan listrik (EV). Peran nikel dalam meningkatkan kepadatan energi dan efisiensi baterai menjadikannya komponen yang tak tergantikan untuk kendaraan listrik jarak jauh.

Permintaan global terhadap nikel terus meningkat seiring dengan kebutuhan elektrifikasi dan energi terbarukan. Hal ini menarik perhatian para investor yang mencari peluang pertumbuhan di sektor logam strategis ini.

Dengan adopsi kendaraan listrik yang kian meluas, permintaan nikel diperkirakan melonjak. Menurut Benchmark Mineral Intelligence, lebih dari 50% pertumbuhan permintaan nikel pada 2030 akan berasal dari produksi baterai, yang diperkirakan membutuhkan 1,5 juta ton metrik per tahun.

Pergeseran global menuju baterai berenergi tinggi semakin mengukuhkan peran nikel. Selain itu, investasi global dalam infrastruktur penambangan dan pemurnian nikel diproyeksikan melampaui $66 miliar pada 2030, memastikan stabilitas pasokan jangka panjang.

Peluang Besar bagi Investor
Permintaan yang terus meningkat, didorong oleh prioritas industri otomotif dan pemerintah untuk mengadopsi kendaraan listrik, diperkirakan akan melampaui pasokan nikel. Hal ini dapat mendorong kenaikan harga nikel. Perusahaan-perusahaan yang memimpin dalam produksi nikel berkelanjutan memiliki posisi strategis untuk memanfaatkan pertumbuhan ini, menjadikannya pilihan investasi menarik di tahun 2025 dan seterusnya.

Namun, berinvestasi di saham perusahaan nikel memiliki tantangan tersendiri. Industri tambang sangat siklikal, dengan harga saham sering kali berfluktuasi seiring nilai pasar nikel. Peristiwa geopolitik juga telah memperketat pasokan global, menambah volatilitas di pasar. Untuk mengurangi risiko, diversifikasi portofolio dengan saham perusahaan nikel bisa menjadi strategi yang bijak.

Berikut adalah empat perusahaan nikel yang patut diperhatikan pada 2025 karena peran strategis dan potensinya dalam pasar global:

1. Vale S.A.: Raksasa Nikel yang Mendorong Transisi Energi

Vale adalah pemimpin global dalam produksi nikel, memainkan peran penting dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon. Dengan kapitalisasi pasar sebesar US$38,52 miliar, Vale menyumbang 6%-7% pasokan nikel global, menjadikannya pemasok utama baterai EV dan teknologi energi terbarukan.

Pada 2024, Vale memproduksi 179.000 ton metrik nikel dengan operasi yang tersebar di Brasil, Kanada, dan Indonesia. Perusahaan ini berinvestasi besar dalam praktik pertambangan berkelanjutan, termasuk proyek unggulannya di Voisey’s Bay dan Sudbury di Kanada. Proyek ekspansi bawah tanah Voisey’s Bay, yang akan selesai pada 2025, dapat menambah 45.000 ton metrik nikel per tahun.

Di Indonesia, Vale bekerja sama dengan entitas lokal untuk mengembangkan fasilitas pemrosesan nikel menggunakan teknologi high-pressure acid leach (HPAL). Teknologi ini dirancang untuk memenuhi permintaan nikel berkualitas tinggi.

Vale juga memimpin dalam dekarbonisasi dengan teknologi produksi nikel rendah karbon yang diklaim dapat mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 90% dibandingkan metode tradisional. Dengan rencana investasi lebih dari $3 miliar untuk modernisasi operasi nikel dan pengurangan emisi karbon, Vale tetap menjadi daya tarik bagi investor yang ingin berkontribusi pada revolusi energi bersih.

2. Norilsk Nickel: Produsen Nikel Terkemuka Dunia dengan Fokus pada Keberlanjutan

Norilsk Nickel, atau Nornickel, adalah produsen nikel terbesar di dunia dengan kapitalisasi pasar US$19,39 miliar. Perusahaan ini menyumbang lebih dari 20% produksi nikel berkualitas tinggi global.

Pada 2024, Nornickel memproduksi sekitar 146.210 ton metrik nikel, menjadikannya pemasok andal bagi industri baterai EV. Perusahaan ini juga memelopori program produksi nikel netral karbon untuk mendukung tujuan dekarbonisasi global.

Dengan rencana investasi sebesar $8 miliar hingga 2030 untuk modernisasi fasilitas dan peningkatan produksi nikel berkualitas tinggi, Nornickel memiliki posisi strategis dalam mendukung adopsi kendaraan listrik.

3. BHP Group: Pemimpin Global dalam Pasokan Nikel Berkelanjutan

BHP adalah salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia yang mengintegrasikan produksi nikel dalam portofolionya. Operasi Nickel West di Australia Barat menjadi pusat produksi nikel berkualitas tinggi untuk rantai pasokan baterai EV.

Pada 2024, Nickel West memproduksi lebih dari 80.000 ton metrik nikel, dengan 85% hasilnya diarahkan untuk produsen baterai EV. BHP berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 50% di Nickel West pada 2030.

4. Alaska Energy Metals Corp.: Pemain Baru dalam Revolusi Nikel

Alaska Energy Metals Corp. (AEMC) adalah perusahaan junior tambang nikel yang berbasis di Alaska. Dengan kapitalisasi pasar sebesar CAD$23,87 juta, AEMC fokus pada pengembangan sumber daya nikel berkualitas tinggi di lingkungan rendah karbon.

Proyek utama AEMC, Nikolai Project, mencakup 10.600 hektar lahan yang kaya akan nikel, tembaga, dan logam lainnya. Komitmen AEMC terhadap keberlanjutan dan solusi energi terbarukan menjadikannya pemain strategis dalam memenuhi permintaan nikel di Amerika Utara.

Kesimpulan

Keempat perusahaan ini—Vale, Norilsk Nickel, BHP Group, dan Alaska Energy Metals Corp.—menawarkan peluang investasi yang menarik di pasar nikel global. Dengan fokus pada keberlanjutan, inovasi, dan produksi berkualitas tinggi, mereka berada di garis depan revolusi energi bersih. Seiring pertumbuhan pasar EV, perusahaan-perusahaan ini memiliki potensi besar untuk mendukung transisi menuju masa depan rendah karbon.