Banda Aceh, KabarHijau.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh mengeluarkan peringatan serius terkait krisis iklim ekstrem yang melanda wilayah Aceh, mendekati kondisi darurat ekologi. Kepala Divisi Advokasi dan Kampanye WALHI Aceh, Afifuddin Acal, dalam wawancara dengan PRO 1 RRI Banda Aceh pada Kamis (9/1/2025), menjelaskan bahwa bencana alam seperti banjir bandang dan longsor, hampir 70 persen terjadi di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL). Kawasan ini dikenal sebagai paru-paru dunia dan memiliki fungsi ekologis yang sangat vital.
“Dari total kejadian banjir di Aceh, sekitar 70 persen terjadi di KEL yang mengalami kerusakan. Ini menunjukkan bahwa kerusakan hutan memiliki kontribusi besar terhadap terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, longsor, hingga angin kencang,” ungkap Afifuddin.
Baru-baru ini, Kabupaten Aceh Tenggara, yang sebagian besar wilayahnya termasuk dalam KEL, kembali dilanda banjir bandang akibat tingginya curah hujan. Kondisi ini, menurut Afifuddin, menjadi bukti nyata krisis iklim yang semakin sulit diprediksi.
Pola Cuaca yang Tidak Menentu
Afifuddin menyoroti bahwa perubahan cuaca yang tidak menentu menjadi salah satu tanda krisis iklim. Pola cuaca yang dahulu dapat diprediksi kini sudah tidak berlaku.
“Dulu, saat memasuki bulan-bulan berakhiran ‘ber’, seperti September hingga Desember, kita tahu itu musim hujan. Sekarang, cuaca tidak menentu lagi. Langit cerah sekalipun bisa tiba-tiba hujan,” jelasnya.
Menurut data WALHI Aceh, sekitar 45 persen bencana hidrometeorologi di Aceh, termasuk banjir dan angin puting beliung, berkaitan dengan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia.
Darurat Ekologi dan Konflik Manusia-Satwa
Afifuddin juga memperingatkan bahwa Aceh mendekati kondisi darurat ekologi. Salah satu dampaknya adalah meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar akibat rusaknya habitat hewan.
“Kita sering mendengar berita tentang gajah masuk ke pemukiman atau sekolah. Itu bukan salah gajah. Mereka kehilangan habitatnya akibat perusakan hutan oleh manusia. Jadi, jika ada gajah masuk ke sekolah, siapa yang sebenarnya salah? Manusia,” tegasnya.
Afifuddin menyerukan pemerintah dan masyarakat Aceh untuk segera mengambil langkah konkret guna mengatasi krisis ekologis ini. Rehabilitasi hutan dan perlindungan kawasan konservasi harus menjadi prioritas utama agar bencana yang lebih besar dapat dicegah.
“Krisis ini bukan hanya soal cuaca, tapi juga menyangkut keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh secara keseluruhan,” pungkasnya.
Pentingnya Kawasan Ekosistem Leuser
Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) merupakan salah satu wilayah konservasi paling penting di dunia. Dengan luas 2,6 juta hektare, KEL mencakup 13 kabupaten di Aceh dan 4 kabupaten di Sumatera Utara. Ekosistem ini mendukung kehidupan lebih dari empat juta orang di sekitarnya.
Sebagai hutan hujan tropis, KEL menjadi habitat bagi beragam spesies flora dan fauna, termasuk satwa langka seperti harimau Sumatra, orangutan, dan gajah. Kerusakan kawasan ini bukan hanya mengancam ekosistem lokal tetapi juga kestabilan lingkungan global.
Afifuddin menegaskan bahwa jika tidak ada tindakan segera, Aceh berpotensi menghadapi krisis ekologi yang lebih parah. Rehabilitasi dan pelestarian kawasan hutan menjadi kunci untuk menyelamatkan Aceh dari ancaman yang lebih besar.
Sumber: RRI
