Ekonomi Hijau

Indonesia Luncurkan Perdagangan Karbon Internasional, Buka Peluang Ekonomi Baru

348
×

Indonesia Luncurkan Perdagangan Karbon Internasional, Buka Peluang Ekonomi Baru

Sebarkan artikel ini
Menteri LH/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq dalam pelantikan pejabat KLH/BPLH di Tangerang Selatan, Senin (13/1/2025) ANTARA/HO-KLH

Jakarta, KabarHijau.com – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara resmi memulai era baru dalam upaya mitigasi perubahan iklim dengan meluncurkan perdagangan karbon internasional. Langkah ini diharapkan tidak hanya mengurangi emisi gas rumah kaca, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha dan masyarakat.

Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Hanif Faisol Nurofiq, menyatakan bahwa perdagangan karbon merupakan langkah strategis Indonesia dalam merespons tantangan perubahan iklim. “Dengan memberikan nilai ekonomi pada upaya pengurangan emisi, kita mendorong partisipasi aktif dari berbagai sektor untuk berkontribusi dalam mencapai target iklim nasional,” ujar Hanif.

Bagaimana Mekanisme Perdagangan Karbon Berjalan?

Mekanisme perdagangan karbon di Indonesia akan dikelola melalui Sistem Registrasi Nasional Pengendalian Perubahan Iklim (SRN-PPI). Setiap proyek yang berhasil mengurangi emisi akan mendapatkan Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE GRK) yang dapat diperdagangkan di pasar karbon, baik domestik maupun internasional.

Bursa Karbon yang dikelola oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan menjadi pusat transaksi karbon di Indonesia. Dengan demikian, setiap transaksi akan tercatat secara transparan dan dapat diakses oleh publik.

Proyek Percontohan dan Potensi Ekonomi

Sebagai tahap awal, pemerintah telah mendaftarkan empat proyek besar yang akan menghasilkan sertifikat karbon, di antaranya proyek pembangkit listrik berbahan bakar gas bumi dan minihidro yang dimiliki oleh PT PLN Indonesia Power dan Nusantara Power.

“Proyek-proyek ini tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga memberikan kontribusi nyata dalam mengurangi emisi,” ungkap Hanif.

Lebih lanjut, Hanif menjelaskan bahwa perdagangan karbon internasional akan menciptakan pasar yang dinamis dan mendorong inovasi teknologi ramah lingkungan. “Dengan adanya harga karbon, perusahaan akan termotivasi untuk mencari cara-cara baru yang lebih efisien dan berkelanjutan dalam menjalankan bisnisnya,” tambahnya.

Tantangan dan Peluang di Masa Depan

Meskipun perdagangan karbon menawarkan banyak potensi, namun implementasinya juga dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya adalah memastikan integritas dan transparansi sistem perdagangan karbon. Pemerintah perlu membangun sistem pengawasan yang kuat untuk mencegah terjadinya praktik curang.

Selain itu, perlu adanya sosialisasi yang intensif kepada pelaku usaha dan masyarakat agar mereka memahami mekanisme perdagangan karbon dan manfaat yang dapat diperoleh.

Dengan peluncuran perdagangan karbon internasional, Indonesia telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengatasi perubahan iklim. Langkah ini diharapkan dapat menginspirasi negara-negara lain untuk mengikuti jejak Indonesia dan bersama-sama membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.