Jakarta, KabarHijau.com – Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO) Prita Laura menyatakan bahwa sampah sisa program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari ekonomi sirkular jika dikelola dengan baik oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di masing-masing wilayah.
“Yang paling penting ini adalah kesempatan bagi masyarakat dan SPPG untuk kemudian mengolah sampah makanan menjadi ekonomi sirkular, menjadi kompos, dan industri maggot,” katanya saat meninjau pendistribusian Makan Bergizi Gratis di Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (10/1).
Prita menekankan bahwa program MBG merupakan peluang bagi masyarakat untuk mengubah sampah menjadi potensi perekonomian lokal. “Jadi mari kita melihat bagian dari sampah makanan yang dihasilkan ini bukan sebagai suatu permasalahan, melainkan sebuah kesempatan untuk justru menambah perekonomian lokal,” ujar Prita.
Namun, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dan komitmen yang kuat dari dinas lingkungan hidup di daerah untuk memastikan keberhasilan pengelolaan sampah tersebut. “Namun tentunya ini butuh mata rantai dengan dinas lingkungan hidup di daerah,” ucapnya.
SOP Pengelolaan Sampah Makanan
Prita Laura mengungkapkan bahwa Kementerian Lingkungan Hidup telah menyusun standard operating procedure (SOP) terkait pengelolaan limbah makanan dari program MBG. SOP ini terus disosialisasikan, tidak hanya kepada SPPG tetapi juga kepada dinas lingkungan hidup di berbagai daerah.
“SOP-nya ini saat ini sedang terus disosialisasikan, bukan hanya untuk SPPG menjadi bagian dari SOP, namun juga kepada dinas-dinas lingkungan hidup, karena bagaimanapun juga dinas lingkungan hidup di berbagai daerah punya peran sangat penting untuk mengambil dan mengolah hal tersebut,” jelasnya.
Evaluasi dan Pendataan Sisa Makanan
Sementara itu, Kepala SPPG Ciracas, Agung Riyano Riyadita, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi dan pendataan sisa makanan bergizi gratis setiap harinya. “Proses pendataan dari sampah ini kita juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Jadi, bahan makanan yang dibuang misalnya ujung wortel atau bongkol-bongkolnya itu dipisahkan dengan sisa makanan yang sudah selesai dikonsumsi oleh balita, anak sekolah, ibu menyusui, ibu hamil. Jadi itu ada perbedaan,” ujarnya.
Peninjauan Pendistribusian MBG
Kegiatan peninjauan pendistribusian MBG bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di SPPG Ciracas pada Jumat ini dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN Ratu Isyana Bagoes Oka, serta Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (WamenPPPA) Veronica Tan.
Berdasarkan data dari Kemendukbangga/BKKBN, di Posyandu Anyelir terdapat 30 paket MBG yang didistribusikan kepada 4 ibu hamil, 3 ibu menyusui, dan 23 balita. Sementara itu, di Posyandu Dahlia, sebanyak 45 paket MBG diberikan kepada 10 ibu hamil, 9 ibu menyusui, dan 26 balita.
Dengan langkah ini, program MBG diharapkan tidak hanya meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan dampak positif bagi perekonomian melalui pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Sumber : Antara
