KabarHijau.com – Emisi karbon masih menjadi tantangan utama dalam menghadapi krisis iklim global. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia terus mengalami peningkatan produksi emisi karbon yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Salah satu upaya untuk mengendalikan emisi adalah dengan menerapkan tarif atau harga karbon kepada industri penghasil emisi.
Menurut World Bank, terdapat dua mekanisme utama dalam penetapan tarif karbon, yaitu Emissions Trading System (ETS) atau sistem perdagangan karbon, dan carbon tax atau pajak karbon. Tarif ini dapat diterapkan di berbagai tingkat, mulai dari nasional hingga subnasional. Misalnya, Indonesia telah memiliki Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), sementara di tingkat regional terdapat European Emission Trading System (EU-ETS).
Uruguay Jadi Negara dengan Pajak Karbon Termahal
Berdasarkan data World Bank, Uruguay menempati posisi teratas dengan pajak karbon termahal di dunia, mencapai US$167,17 per ton CO2e. Swiss dan Lichtenstein berada di posisi kedua dengan tarif masing-masing US$132,12 per ton CO2e, disusul Swedia di posisi keempat dengan US$127,25 per ton CO2e.
Norwegia berada di peringkat kelima dengan pajak karbon US$107,78 per ton CO2e, diikuti oleh Finlandia dengan US$99,98 per ton CO2e. Belanda menutup tujuh besar dengan tarif pajak karbon US$71,48 per ton CO2e.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia baru mulai menerapkan mekanisme perdagangan karbon melalui Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon), yang diresmikan pada September 2023. Meski begitu, harga karbon di Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika Latin. Pajak karbon di Indonesia dikenakan pada sektor energi, terutama pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara, dengan harga awal Rp30.000 atau sekitar US$2 per ton CO2e.
Ke depan, tarif karbon di Indonesia diperkirakan akan meningkat seiring dengan komitmen pemerintah dalam mencapai target net zero emission pada 2060. Penguatan regulasi dan implementasi yang efektif menjadi kunci keberhasilan dalam menekan emisi karbon serta mendorong transisi energi yang lebih berkelanjutan.











