Perubahan Iklim

Pemanasan Global Memperburuk Diabetes di Seluruh Dunia

428
×

Pemanasan Global Memperburuk Diabetes di Seluruh Dunia

Sebarkan artikel ini
Gangabai Bodake terpaksa berhenti bekerja di pertanian pada tahun 2019 karena ia merasa kesulitan untuk berjalan kaki dalam jarak dekat karena kadar gula darahnya semakin memburuk. Gelombang panas yang semakin ekstrem memperparah diabetes di seluruh dunia. (Photo: Sanket Jain/ yaleclimateconnections.org)

KabarHijau.com – Pemanasan global bukan hanya ancaman bagi lingkungan, tetapi juga memperburuk kondisi kesehatan jutaan penderita diabetes di seluruh dunia. Gelombang panas ekstrem yang semakin sering terjadi memperparah gejala diabetes dan meningkatkan risiko komplikasi serius.

Dampak Gelombang Panas pada Penderita Diabetes

Asha Sonawane, seorang wanita berusia 63 tahun dari Maharashtra, India, mengalami dampak langsung dari suhu yang semakin panas. Tahun lalu, saat hendak ke dokter, ia tiba-tiba pingsan akibat dehidrasi yang diperburuk oleh diabetes mellitus yang dideritanya sejak 1997. Dokter yang menanganinya menjelaskan bahwa suhu ekstrem memperparah penyakitnya, menyebabkan tubuhnya kesulitan mengatur kadar gula darah.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Sonawane. Jutaan penderita diabetes di dunia menghadapi tantangan serupa karena tubuh mereka kesulitan menyesuaikan diri dengan suhu tinggi. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penderita diabetes telah meningkat 315% sejak 1990, dengan lonjakan terbesar terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Suhu Panas dan Lonjakan Kasus Diabetes

Penelitian tahun 2017 menunjukkan bahwa kenaikan suhu global dapat berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah penderita diabetes. Setiap kenaikan suhu sebesar satu derajat Celsius berpotensi menyebabkan lebih dari 100.000 kasus diabetes baru di Amerika Serikat setiap tahunnya.

Di tahun 2024, suhu rata-rata global mencapai 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri, melampaui batas yang disepakati dalam Perjanjian Paris 2015. Akibatnya, berbagai studi memperkirakan bahwa kematian akibat diabetes yang dipicu oleh panas ekstrem akan meningkat secara signifikan. Sebuah studi di China bahkan memprediksi bahwa kematian akibat diabetes yang disebabkan oleh panas dapat meningkat hingga delapan kali lipat pada tahun 2090.

Mengapa Penderita Diabetes Lebih Rentan terhadap Panas?

Menurut Charles Leonard, profesor epidemiologi di University of Pennsylvania, penderita diabetes memiliki respons tubuh yang lebih lambat terhadap panas ekstrem. “Mereka mengalami penurunan aliran darah ke kulit dan gangguan mekanisme keringat, sehingga tubuh kesulitan mendinginkan diri,” jelasnya. Selain itu, beberapa obat diabetes juga dapat memperparah kondisi ini dengan menghambat proses berkeringat.

Panas ekstrem juga meningkatkan risiko fluktuasi kadar gula darah yang dapat menyebabkan hipoglikemia (gula darah rendah) atau hiperglikemia (gula darah tinggi). Kondisi ini dapat berujung pada kerusakan organ, serangan jantung, atau bahkan kematian.

Langkah Pencegahan

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) merekomendasikan langkah-langkah berikut bagi penderita diabetes untuk menghadapi suhu panas ekstrem:

  • Minum banyak air untuk mencegah dehidrasi.
  • Menyimpan obat dan perlengkapan medis di tempat sejuk agar tidak rusak akibat panas.
  • Menghindari minuman beralkohol dan berkafein yang dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
  • Mengenakan pakaian longgar dan berwarna terang serta menggunakan tabir surya saat berada di luar ruangan.
  • Mengurangi aktivitas fisik saat suhu sangat tinggi.

Membangun Kesadaran dan Infrastruktur Kesehatan

Sayangnya, banyak penderita diabetes yang belum menyadari bahaya suhu ekstrem terhadap kondisi mereka. Kurangnya edukasi dan akses terhadap informasi menyebabkan banyak orang tetap bekerja atau beraktivitas di luar ruangan saat gelombang panas, tanpa menyadari risikonya.

Selain itu, sistem kesehatan di banyak negara belum siap menghadapi tantangan ini. Para ahli menekankan perlunya sistem peringatan dini bagi kelompok rentan, termasuk penderita diabetes, serta pengembangan layanan telemedisin untuk membantu mereka saat terjadi cuaca ekstrem.

Masa Depan yang Makin Panas, Ancaman yang Makin Besar

Asha Sonawane dan banyak penderita diabetes lainnya kini menghadapi kenyataan pahit: perubahan iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga masalah kesehatan yang serius. Ketika suhu terus meningkat, jumlah penderita diabetes yang mengalami komplikasi akibat panas juga akan semakin bertambah.

Gangabai Bodake, tetangga Sonawane yang juga menderita diabetes, mengungkapkan kesulitannya menghadapi suhu ekstrem. “Saya tidak bisa bekerja lagi di ladang karena kaki saya sering bengkak dan terasa sangat sakit,” katanya. Ketika gelombang panas melanda, ia hanya bisa membalut kakinya dengan kain dan berharap rasa sakitnya mereda.

Peningkatan suhu global bukan hanya ancaman bagi ekosistem, tetapi juga memperburuk kondisi kesehatan jutaan orang di seluruh dunia. Jika tidak ada tindakan nyata untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kesadaran akan dampak kesehatan dari perubahan iklim, masa depan akan menjadi lebih sulit bagi penderita diabetes dan kelompok rentan lainnya.

Sumber: Yale Climate Connections