Bencana & Cuaca

Kerugian Sepuluh Bencana Iklim Terbesar 2025 Tembus US$120 Miliar, Siklon Senyar di Sumatra Masuk Daftar

187
×

Kerugian Sepuluh Bencana Iklim Terbesar 2025 Tembus US$120 Miliar, Siklon Senyar di Sumatra Masuk Daftar

Sebarkan artikel ini
Orang-orang di tengah banjir besar
Banjir merendam kawasan pasar dan pertokoan di Keude Geudong, Aceh Utara, Rabu (26/11/2025). Genangan air mengganggu aktivitas ekonomi warga dan kembali menegaskan kerentanan wilayah ini terhadap cuaca ekstrem yang kian sering terjadi. (Foto: KabarHijau.com)

KabarHijau.com — Total kerugian ekonomi akibat sepuluh bencana iklim terbesar di dunia sepanjang 2025 diperkirakan melampaui US$120 miliar atau lebih dari Rp1.800 triliun. Angka ini menempatkan 2025 sebagai salah satu tahun dengan biaya dampak iklim tertinggi dalam sejarah modern, termasuk di dalamnya Siklon Tropis Senyar yang menghantam Sumatra.

Data tersebut tercantum dalam laporan terbaru organisasi kemanusiaan internasional Christian Aid berjudul Counting the Cost 2025: A Year of Climate Breakdown. Laporan ini menegaskan bahwa rangkaian bencana besar sepanjang tahun bukanlah kejadian alam semata, melainkan diperparah secara signifikan oleh perubahan iklim akibat aktivitas manusia.

Kebakaran hutan besar yang melanda California, Amerika Serikat, pada awal 2025 menempati peringkat pertama sebagai bencana dengan kerugian ekonomi terbesar. Nilai kerugiannya diperkirakan mencapai US$60 miliar dan menyebabkan sekitar 400 orang meninggal dunia. Analisis dalam laporan tersebut menyebutkan bahwa perubahan iklim telah meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cuaca ekstrem pemicu kebakaran di wilayah itu sedikitnya sebesar 35 persen.

Peringkat kedua ditempati oleh rangkaian banjir dan longsor di Asia Tenggara dan Asia Selatan yang dipicu oleh siklon tropis pada November 2025. Bencana ini menimbulkan kerugian ekonomi sekitar US$25 miliar dan menewaskan sedikitnya 1.750 orang di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia. Di Indonesia, dampak paling parah tercatat di Sumatra akibat Siklon Tropis Senyar.

Banjir musiman di China pada periode Juni hingga Agustus 2025 berada di posisi ketiga, dengan kerugian ekonomi sebesar US$11,7 miliar dan korban jiwa lebih dari 30 orang.

Christian Aid menekankan bahwa peningkatan intensitas badai tropis, curah hujan ekstrem, serta topan berkekuatan tinggi memiliki kaitan erat dengan pemanasan global. Perubahan iklim tercatat meningkatkan kemungkinan terjadinya topan dengan intensitas tinggi, seperti Topan Ragasa, hingga 49 persen.

“Bencana iklim ini merupakan peringatan tentang apa yang akan terjadi jika kita tidak mempercepat transisi dari bahan bakar fosil. Ini juga menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk adaptasi, khususnya di negara-negara Selatan, di mana sumber daya terbatas dan masyarakat sangat rentan terhadap guncangan iklim,” ujar Patrick Watt, CEO Christian Aid, dikutip dari siaran pers, Senin (22/12/2025).

Dampak Bencana Iklim terhadap Masyarakat

Selain kerugian langsung, negara-negara terdampak juga dihadapkan pada biaya rekonstruksi yang sangat besar. Untuk memperbaiki kerusakan akibat banjir parah di Sumatra, kebutuhan dana diperkirakan melebihi US$3 miliar. Sementara itu, Sri Lanka diproyeksikan memerlukan biaya rekonstruksi sebesar US$6 hingga 7 miliar.

“Tahun ini mengungkapkan kenyataan brutal perubahan iklim. Ketika negara-negara kaya menghitung kerugian finansial akibat bencana, jutaan orang di Afrika, Asia, dan Karibia menghitung nyawa, rumah, dan masa depan yang hilang,” kata Mohamed Adow, Direktur Power Shift Africa yang berbasis di Nairobi, Kenya.

Pandangan serupa disampaikan Joanna Haigh, Profesor Emeritus Fisika Atmosfer dari Imperial College London. Menurutnya, harga yang harus dibayar akibat krisis iklim terus meningkat, padahal solusi sudah lama diketahui.

“Ini bukanlah bencana alam, melainkan hal yang dipicu oleh ekspansi bahan bakar fosil dan penundaan keputusan politik. Meskipun kerugiannya bernilai miliaran dolar, beban terberat justru dipikul oleh komunitas dengan sumber daya paling terbatas,” ujarnya.

Daftar Sepuluh Bencana Iklim Termahal Sepanjang 2025:

  1. Kebakaran di Los Angeles, AS (Januari): US$60 miliar, lebih dari 400 kematian.
  2. Siklon tropis di Asia Tenggara dan Asia Selatan (November): US$25 miliar, lebih dari 1.750 kematian.
  3. Banjir musiman di China (Juni–Agustus): US$11,7 miliar, lebih dari 30 kematian.
  4. Topan Melissa di Jamaika, Kuba, dan Bahama (pertengahan hingga akhir 2025): US$8 miliar.
  5. Banjir di India dan Pakistan (Juni–September): US$5,6 miliar, lebih dari 1.860 kematian.
  6. Topan di Filipina (pertengahan tahun hingga November): US$5 miliar, ratusan kematian.
  7. Kekeringan di Brasil (Januari–Juni): US$4,75 miliar.
  8. Siklon Tropis Alfred di Australia (Februari): US$1,2 miliar, 1 kematian.
  9. Siklon Garance di Réunion, Afrika Timur (Februari): US$1,5 miliar, 5 kematian.
  10. Banjir di Texas, AS (Juli): US$1 miliar, lebih dari 135 kematian.

Laporan ini menjadi pengingat keras bahwa krisis iklim bukan ancaman masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung, dengan dampak sosial dan ekonomi yang kian berat setiap tahunnya.