Kelautan

Kesepakatan $31 Juta Bawa Teknologi Serap Karbon Laut ke Arus Utama

257
×

Kesepakatan $31 Juta Bawa Teknologi Serap Karbon Laut ke Arus Utama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Padang Lamun. Photo: Mongabay

KabarHijau.com – Upaya mengurangi emisi karbon dunia mendapat suntikan semangat baru. Sebuah kesepakatan bernilai US$31,3 juta (sekitar Rp500 miliar) resmi diteken antara Frontier Climate dan Planetary, perusahaan teknologi iklim asal Kanada. Proyek ini akan mengembangkan metode Ocean Alkalinity Enhancement (OAE) atau peningkatan alkalinitas laut—teknologi yang digadang-gadang bisa menjadi cara paling murah dan efektif menyerap karbon dari udara.

Dalam kontrak ini, Planetary akan menyerap 115 ribu ton CO₂ dari atmosfer pada periode 2026 hingga 2030. Harga per ton karbon ditetapkan di angka US$270. Kesepakatan ini melanjutkan keberhasilan Planetary yang awal tahun ini mencatatkan sejarah dengan men-deliver penyerapan karbon laut pertama yang diverifikasi secara independen.

Didukung Raksasa Dunia

Frontier Climate sendiri bukan pemain biasa. Konsorsium ini dibekingi perusahaan-perusahaan raksasa dunia seperti Google, Stripe, Shopify, Meta, hingga McKinsey. Mereka punya komitmen menggelontorkan lebih dari US$1 miliar hingga 2030 demi mencari cara-cara baru untuk “menyapu bersih” CO₂ dari atmosfer secara permanen.“Teknologi OAE bisa jadi solusi super murah dan efisien. Tantangannya adalah bagaimana mengembangkannya di luar uji coba skala kecil dengan standar keselamatan dan transparansi yang kuat. Planetary sudah berada di jalur itu,” jelas Hannah Bebbington, Head of Deployment Frontier.

Cara Kerjanya

Secara sederhana, teknologi OAE meningkatkan kadar alkalinitas alami laut sehingga air laut bisa menyerap CO₂ lebih banyak. Gas rumah kaca ini kemudian diubah menjadi bikarbonat stabil yang terkunci aman hingga 10 ribu tahun. Bonus lainnya, laut yang lebih “alkali” bisa membantu mengurangi pengasaman laut, sehingga biota pesisir seperti tiram, lobster, dan kepiting punya peluang hidup lebih baik.

Keunggulan Planetary adalah mereka tidak perlu membangun infrastruktur baru. Cukup memanfaatkan fasilitas yang sudah ada—misalnya saluran pendingin di pembangkit listrik—untuk menyalurkan teknologi ini.

Menjawab Kekhawatiran Publik

Meski menjanjikan, teknologi laut selalu memunculkan pertanyaan: aman tidak? Planetary mengaku sudah menyiapkan “rem darurat” berupa sensor real-time, pemantauan kimia air, hingga mekanisme otomatis untuk menghentikan operasi bila ada potensi bahaya.

Bahkan komunitas adat Kanada ikut angkat bicara. Jim Hepworth dari The Confederacy of Mainland Mi’kmaq menyebut, “Kami punya tanggung jawab menjaga laut sejak generasi ke generasi. Senang melihat solusi iklim inovatif ini dijalankan dengan memperhatikan sains dan komunitas.”

Jalan Masih Panjang

Planetary sejauh ini sudah mengantongi pendanaan Series A senilai US$11,35 juta, memenangkan XPRIZE, dan menghasilkan kredit karbon laut pertama yang sempat dibeli oleh Stripe, Shopify, dan British Airways.

Namun, jalannya tak selalu mulus. Pada April 2025, mereka terpaksa membatalkan proyek uji coba di Cornwall, Inggris, setelah mendapat penolakan keras dari warga yang khawatir soal dampak ekologis.

Tetap saja, CEO Planetary Mike Kelland optimistis. “Kesepakatan ini membuktikan bahwa OAE bisa diterapkan secara aman dan bertanggung jawab. Kami yakin teknologi ini bisa jadi solusi penyerapan karbon paling murah dan skalabel di dunia,” ujarnya.