Ekonomi Hijau

Guam Kembangkan Skema Kredit Karbon untuk Pendanaan Konservasi Berkelanjutan

500
×

Guam Kembangkan Skema Kredit Karbon untuk Pendanaan Konservasi Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Photo: University of Guam

Guam, KabarHijau.com – Pusat Keberlanjutan Pulau dan Sea Grant University of Guam (UOG CIS & SG) meluncurkan inisiatif inovatif yang berpotensi merevolusi pendanaan konservasi di Guam dan wilayah Mikronesia. Program ini bertujuan mendapatkan Sertifikasi Kredit Karbon Gold Standard untuk proyek penanaman pohon mereka, yang memungkinkan universitas memperoleh pendapatan dari kredit karbon sebagai sumber pendanaan berkelanjutan bagi upaya restorasi lingkungan.

Menurut siaran pers terbaru dari UOG, langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan pada hibah dan pendanaan pemerintah. “Melalui sertifikasi kredit karbon Gold Standard, kami berupaya mendiversifikasi sumber pendanaan agar pekerjaan penting ini dapat terus berjalan,” ujar Dr. Austin Shelton, Direktur UOG CIS & SG.

Restorasi Lahan dan Ancaman Lingkungan di Guam

Inisiatif ini merupakan bagian dari program Guam Restoration of Watersheds (GROW) yang telah menanam lebih dari 16.800 pohon asli dan budaya penting di perbukitan selatan Guam yang mengalami erosi, atau yang dikenal sebagai badlands. Shelton menjelaskan bahwa degradasi lingkungan di Guam diperparah oleh perburuan liar yang menyebabkan kebakaran hutan, aktivitas off-road yang tidak bertanggung jawab, serta populasi babi dan rusa invasif yang merusak vegetasi.

“Hujan deras kemudian membawa tanah yang tererosi ke sungai dan akhirnya ke terumbu karang, menyebabkan sedimentasi yang dapat membunuh ekosistem karang,” jelas Shelton.

Proses sertifikasi kredit karbon ini didanai oleh U.S. Climate Alliance dan akan menetapkan manfaat nyata dari penyerapan karbon yang dapat dikonversi menjadi sumber pendapatan untuk mendukung konservasi. UOG bekerja sama dengan firma konsultan Hā Sustainability yang berbasis di Hawaii dalam proses sertifikasi ini.

Dampak Lebih Luas dari Program Kredit Karbon

Shelton menekankan bahwa langkah ini tidak hanya berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon, tetapi juga meningkatkan kesehatan tanah dan keberlanjutan pangan. “Kami menanam pohon seperti akasia, yang merupakan spesies pionir dalam pemulihan tanah,” katanya.

Selain itu, proyek ini juga mengarah pada pembentukan agroforestri dengan menanam pohon buah seperti mangga dan sukun. “Kami ingin menghitung seberapa banyak pangan lokal yang bisa kami hasilkan, sehingga mengurangi ketergantungan pada impor dan dampak lingkungan akibat transportasi,” ujarnya.

Hal ini sangat penting bagi Guam yang mengimpor sekitar 90% kebutuhan pangannya. “Dengan meningkatkan ketahanan pangan dan mengurangi impor, lebih banyak uang akan tetap beredar di dalam negeri,” tambahnya.

Kredit karbon yang dihasilkan dari proyek ini akan dipasarkan kepada perusahaan yang ingin mengimbangi jejak karbon mereka. “Banyak perusahaan multinasional, seperti Mars Candy Company, memiliki target untuk mencapai net zero dalam dekade mendatang. Salah satu caranya adalah dengan membeli kredit karbon dari proyek seperti ini,” kata Shelton.

Menurutnya, kredit karbon dari Guam memiliki keunikan karena tidak hanya mengurangi emisi, tetapi juga memperbaiki ekosistem terumbu karang, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. “Kami berharap dapat menarik investor serta perusahaan lokal yang ingin berkontribusi pada konservasi di Guam,” katanya.

Kolaborasi dengan Masyarakat Lokal

Sebagai langkah awal, UOG CIS & SG akan mengadakan pertemuan komunitas pada 7 April di Hyatt Regency Guam untuk berbagi informasi mengenai proses sertifikasi dan mengundang masukan dari masyarakat. Pertemuan ini juga menjadi agenda pembuka untuk 16th University of Guam Conference on Island Sustainability.

“Dari pertemuan ini dan pertemuan mendatang, kami ingin mendapatkan masukan dari masyarakat tentang bagaimana proyek ini bisa memberikan manfaat bagi semua penduduk,” kata Shelton.

Jika berhasil, inisiatif ini bisa menjadi model bagi pulau-pulau lain di Mikronesia yang menghadapi tantangan serupa. “Banyak pulau di Mikronesia memiliki masalah daerah aliran sungai yang mirip. Jika kita bisa menghitung manfaat karbon dari spesies pohon di kawasan kita dan menyusun prosesnya, kita bisa membagikannya dengan mitra lokal lainnya,” jelasnya.

Shelton menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan cara baru untuk menjaga keberlanjutan konservasi. “Kami berusaha melampaui model lama yang bergantung pada hibah, dan sebaliknya menggunakan sumber daya yang tersedia untuk menciptakan pendanaan jangka panjang bagi upaya perlindungan lingkungan.”