Berita

Proyek CCUS di Malaysia Dianggap Lebih Untungkan Ekspansi Migas Daripada Kurangi Emisi

472
×

Proyek CCUS di Malaysia Dianggap Lebih Untungkan Ekspansi Migas Daripada Kurangi Emisi

Sebarkan artikel ini
Kasawari CCUS project
Proyek Kasawari CCUS di Sarawak, yang akan menjadi yang terbesar di dunia, adalah salah satu dari tiga inisiatif penangkapan karbon yang diharapkan oleh Petronas dapat membantunya mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050. Photo: Red Ivory / Shutterstock

KabarHijau.com – Laporan terbaru dari lembaga penelitian lingkungan RimbaWatch mengungkap bahwa 9 dari 10 proyek Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) di Malaysia justru digunakan untuk membuka cadangan minyak dan gas yang sebelumnya sulit diakses. Alih-alih menjadi solusi iklim, teknologi ini berpotensi meningkatkan emisi karbon hingga 1,3 miliar ton CO2e—jauh melebihi kapasitas penyerapan karbon yang dijanjikan.

CCUS untuk Ekspansi Migas, Bukan Dekarbonisasi

Berdasarkan analisis RimbaWatch, mayoritas proyek CCUS di Sarawak dan Semenanjung Malaysia terkait dengan pengembangan ladang gas asam (sour gas) dan perpanjangan usia sumur migas melalui Enhanced Oil Recovery (EOR). Misalnya, proyek Kasawari dan Lang Lebah di Sarawak—yang menyimpan 16 triliun kaki kubik gas—menggunakan CCUS untuk memisahkan CO2 dari gas asam, lalu menyuntikkannya kembali ke sumur guna meningkatkan produksi migas.

Dari 10 inisiatif CCUS yang teridentifikasi, hanya satu yang tidak terkait ekspansi bahan bakar fosil. Total emisi dari cadangan migas yang “dibuka” oleh proyek-proyek ini diperkirakan mencapai 1,379 miliar ton CO2e selama 25 tahun—setara dengan emisi Jepang di tahun 2023. Sementara itu, kemampuan CCUS menyerap karbon hanya 10% dari emisi tersebut, bahkan dalam skenario terbaik.

Energi Surya: Alternatif Lebih Efektif dan Rendah Risiko

RimbaWatch membandingkan investasi CCUS dengan pengembangan energi surya. Jika dana MYR30 miliar (dialokasikan untuk CCUS dalam National Energy Transition Roadmap) dialihkan ke pembangunan PLTS skala besar, Malaysia bisa mengurangi emisi 14,5 juta ton CO2/tahun—2,1 juta ton lebih tinggi daripada skenario optimal CCUS. Selain itu, kapasitas surya sebesar 15 GW tersebut mampu memenuhi 15,1% kebutuhan listrik nasional.

“CCUS bukan solusi iklim yang kredibel. Teknologi ini mahal, berisiko tinggi, dan justru memperpanjang ketergantungan pada bahan bakar fosil,” tegas laporan tersebut.

Catatan Buruk CCUS Global dan Kelemahan RUU CCUS 2025

Studi global menunjukkan 80% proyek CCUS gagal mencapai target penangkapan karbon, dengan rata-rata efisiensi hanya 50%. Contohnya, proyek Gorgon CCS Chevron di Australia hanya menyerap 50% dari target, sementara CCS Shell di Kanada justru menghasilkan emisi bersih.

RUU CCUS 2025 yang disahkan Dewan Rakyat pada 6 Maret 2025 juga dikritik karena:

  1. Tidak melarang penggunaan CO2 hasil tangkapan lokal untuk EOR, berpotensi mendorong ekstraksi migas berlebih.
  2. Tidak ada sanksi bagi proyek yang gagal memenuhi target atau mengalami kebocoran CO2.
  3. Sentralisasi kewenangan penuntutan di bawah Jaksa Agung, mirip dengan UU Rahasia Resmi (OSA)—mengurangi transparansi dan akuntabilitas.

Rekomendasi: Alihkan Investasi ke Energi Terbarukan

RimbaWatch mendesak pemerintah memprioritaskan energi terbarukan seperti surya dan angin, serta menghentikan insentif untuk CCUS yang tidak jelas manfaat iklimnya. “Malaysia perlu fokus pada transisi energi yang nyata, bukan solusi semu yang justru memperburuk krisis iklim,” tulis laporan itu.

Sumber Data: Laporan Lengkap RimbaWatch, Maret 2025 (https://rimbawatchmy.com/reports).