Perubahan Iklim

Jepang Perbarui Target Iklim di Bawah Perjanjian Paris, Fokus pada Kredit Karbon Internasional

415
×

Jepang Perbarui Target Iklim di Bawah Perjanjian Paris, Fokus pada Kredit Karbon Internasional

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Energi Terbarukan. Photo: Envato Elements

KabarHijau.com – Jepang telah menyerahkan target iklim terbarunya di bawah Perjanjian Paris kepada badan iklim PBB pekan lalu. Dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang diperbarui, Jepang menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 60% pada tahun 2035 dan 73% pada tahun 2040 dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2013.

Pemerintah Jepang juga menegaskan kembali rencana mereka untuk menggunakan kredit karbon internasional melalui mekanisme Joint Crediting Mechanism (JCM). Jepang telah lama menargetkan kredit JCM yang setara dengan 100 juta ton CO2 (tCO2e) untuk membantu mencapai tujuan iklim 2030, yakni pengurangan emisi sebesar 46% dari tingkat tahun 2013. Namun, dalam NDC terbaru, Jepang menetapkan target baru sebesar 200 juta tCO2e dari JCM untuk tahun 2040.

Harmonisasi dengan Mekanisme Pasal 6 Perjanjian Paris

Seiring dengan operasionalisasi mekanisme karbon di bawah Pasal 6 Perjanjian Paris pada KTT Iklim COP29 di Baku, Jepang kini tengah menyesuaikan persyaratan bagi pengembang proyek JCM agar lebih selaras dengan aturan baru tersebut.

Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang (METI) dalam pernyataannya menyebutkan bahwa mereka akan memperluas dan mempercepat proyek-proyek spesifik serta mengembangkan inisiatif berbasis Pasal 6 ke negara-negara mitra melalui ‘Partnership for the Implementation of Article 6 of the Paris Agreement’.

Peningkatan Jumlah Proyek dan Implementasi JCM

Meskipun JCM telah berjalan sejak 2013, jumlah kredit karbon yang telah diterbitkan masih jauh dari target. Hingga saat ini, Jepang telah menandatangani 29 perjanjian bilateral JCM dan memiliki lebih dari 250 proyek dalam pengembangan. Namun, hanya sekitar 770.309 kredit karbon yang telah diterbitkan di bawah skema ini.

Salah satu proyek yang menonjol adalah Prey Lang Wildlife Sanctuary Stung Treng REDD+ di Kamboja, yang diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 4,14 juta kredit JCM sepanjang masa operasionalnya. Selain itu, terdapat proyek energi surya di Vietnam yang masih dalam tahap validasi dan diperkirakan akan menghasilkan lebih dari 500.000 kredit.

Untuk meningkatkan jumlah proyek, Jepang mengadakan Global Partners Meeting di Tokyo awal bulan ini dengan perwakilan dari 29 negara mitra JCM. Pertemuan ini membahas ekspansi proyek ke sektor-sektor baru seperti pertanian dan carbon capture and storage (CCS), di samping sektor energi yang sudah berjalan.

Pengembangan Metodologi Baru

Jepang juga tengah mengembangkan metodologi baru untuk mengurangi emisi metana dalam produksi padi di Filipina. Pada 3 Februari, otoritas Jepang dan Filipina menyetujui metodologi ‘Methane Emission Reduction by Water Management in Rice Paddy Fields’. Proyek ini akan dijalankan oleh perusahaan Green Carbon di Batangas, dengan target ekspansi hingga 10.000 hektar dalam satu dekade mendatang untuk menghasilkan sekitar 10.000 tCO2e kredit karbon.

Selain itu, Jepang juga berencana menerapkan metode alternatif untuk mengurangi emisi dalam peternakan babi, serta memperluas proyek CCS di Thailand. Metodologi CCS pertama di bawah JCM telah disetujui pada Desember 2024.

Ekspansi Kerjasama JCM ke Negara Baru

Jepang juga berupaya memperluas jaringan JCM dengan negara baru. Pada musim panas tahun ini (Juni-Agustus), Jepang menargetkan penandatanganan perjanjian dengan Malaysia. Selain itu, kesepakatan dengan Brasil juga diharapkan dapat ditandatangani sebelum atau selama KTT Iklim COP30 di Belem pada November.

Sementara itu, pembicaraan dengan India mengenai perjanjian JCM telah berlangsung hampir dua tahun. Jepang telah menerima konfirmasi bahwa India hampir menyelesaikan proses internalnya, meskipun masih memerlukan koordinasi antar-kementerian sebelum finalisasi kesepakatan.

Dengan target ambisius dan upaya ekspansi yang terus dilakukan, Jepang berupaya mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon dan memperkuat perannya dalam pasar karbon global di bawah mekanisme Perjanjian Paris.

Sumber: Quantum Commodity Intelligence