KabarHijau.com – Komisi Eropa telah merilis EU Clean Industrial Deal dengan alokasi dana hampir 105 miliar dolar AS (100 miliar euro) untuk memperkuat daya saing industri, mempercepat dekarbonisasi, dan beralih menuju energi bersih.
Langkah ini bertujuan untuk memperkokoh kekuatan industri Uni Eropa (UE) di tengah kondisi pasar global yang bergejolak serta mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri dengan mengoptimalkan sumber daya domestik.
Fokus pada Dekarbonisasi dan Elektrifikasi Industri
Salah satu elemen utama dari Clean Industrial Deal adalah elektrifikasi dan dekarbonisasi industri dengan konsumsi energi tinggi. Dalam hal ini, Rencana Aksi Energi Terjangkau akan memperluas infrastruktur energi bersih, meningkatkan elektrifikasi, serta memperkuat stabilitas jaringan listrik, sambil menurunkan biaya energi industri dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor.
Tahun ini, Industrial Decarbonization Accelerator Act diharapkan memperkenalkan label intensitas karbon secara sukarela untuk produk seperti baja, dengan semen yang akan menyusul di masa mendatang.
Mendorong Ekonomi Sirkular dan Penggunaan Material Daur Ulang
Dalam upaya meningkatkan ekonomi sirkular, UE mengumumkan pendirian EU Critical Raw Material Centre yang bertugas membeli dan menyimpan bahan-bahan penting. Selain itu, pada tahun 2026, Circular Economy Act akan diluncurkan dengan target peningkatan penggunaan bahan daur ulang hingga 24% pada tahun 2030.
UE juga akan menerapkan Clean Industrial Deal State Aid Framework untuk mempercepat dan menyederhanakan persetujuan proyek-proyek yang didukung negara.
Tantangan dan Kritik terhadap Clean Industrial Deal
UE menargetkan dekarbonisasi ekonomi sepenuhnya pada tahun 2050 dan melihat Clean Industrial Deal sebagai pendorong pertumbuhan industri. Namun, beberapa pihak menilai bahwa rencana ini masih belum menyediakan alat spesifik untuk mendorong kemajuan pesat dalam sektor penghilangan karbon (CDR), yang merupakan salah satu pilar utama aksi iklim.
Organisasi nirlaba Carbon Gap menyebut langkah ini sebagai “kesempatan yang kembali terlewatkan untuk menetapkan peta jalan yang jelas dan ambisius dalam memperluas penghilangan karbon di Eropa.”
Rodica Avornic, Direktur Kebijakan di Carbon Gap, mengungkapkan bahwa UE berisiko tertinggal dibandingkan AS, Kanada, dan Swiss yang telah mengalokasikan dukungan finansial signifikan untuk CDR. Menurutnya, dengan kebijakan kepatuhan baru yang baru berlaku dalam lima tahun ke depan, UE harus segera menerapkan insentif sementara untuk mendorong sektor CDR agar tetap kompetitif.
Alessia Virone, Direktur Urusan Pemerintah Eropa di Clean Air Task Force, menyatakan bahwa UE perlu mengambil tindakan nyata guna meningkatkan kepercayaan investor dan mengurangi biaya sistem untuk memenuhi komitmen iklim sekaligus menjaga daya saing ekonomi.
Virone menambahkan bahwa Clean Industrial Deal memiliki berbagai inisiatif yang dapat berkontribusi pada ekonomi berkelanjutan UE, tetapi implementasinya harus jelas, didanai dengan baik, dan dijalankan secara efektif.
“CID mengakui bahwa teknologi yang diperlukan untuk mencapai dekarbonisasi dapat memperkuat daya saing UE, menjadikan aksi iklim sebagai pendorong, bukan hambatan, bagi kesuksesan industri Eropa. Hanya dengan mengadopsi teknologi dan produk bersih lebih awal dan efektif, UE dapat mengamankan pangsa pasar global yang berkembang ini,” ujar Virone.
Dengan ambisi besar untuk mencapai dekarbonisasi industri, tantangan utama bagi UE adalah memastikan bahwa kebijakan dan insentif yang diterapkan benar-benar mampu mempercepat transisi menuju energi bersih serta meningkatkan daya saing industri di tengah persaingan global yang semakin ketat.











