Ekonomi Hijau

China Dorong Bambu Sebagai Pengganti Plastik

369
×

China Dorong Bambu Sebagai Pengganti Plastik

Sebarkan artikel ini

Zhejiang Pimpin Inisiatif Beralih ke Produk Ramah Lingkungan dan Rendah Karbon

Photo: nationthailand.com

KabarHijau.com – Bambu telah lama dikenal sebagai bahan serbaguna di China, digunakan sejak abad ke-11 SM dalam berbagai bentuk, mulai dari makanan, transportasi, senjata, hingga perumahan, kertas, dan alat musik. Kini, China mendorong penggunaan bambu sebagai alternatif plastik dalam upaya mengurangi limbah dan dampak lingkungan.

Menurut Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional China, negara ini memiliki 7,01 juta hektare hutan bambu dan merupakan produsen serta eksportir bambu terbesar di dunia. Luas hutan bambu China hampir setara dengan seluruh wilayah Irlandia.

Diperkirakan, dunia menghasilkan sekitar 400 juta metrik ton limbah plastik setiap tahun. Dengan karakteristik yang serbaguna dan tingkat biodegradabilitas yang lebih tinggi, bambu muncul sebagai pengganti plastik yang lebih ramah lingkungan.

Provinsi seperti Zhejiang, Fujian, Sichuan, Guangdong, dan Anhui menjadi pusat produksi utama bambu di China. Kabupaten Anji di Zhejiang telah menjadi contoh utama dalam penggunaan bambu sebagai substitusi plastik. Dengan luas hutan bambu mencapai 666 kilometer persegi—sekitar 80 persen luas Kota New York—Anji telah menggantikan plastik dalam berbagai produk, mulai dari peralatan makan sekali pakai hingga sikat gigi dan sisir yang digunakan di hotel serta penginapan.

Pada tahun 2023, China meluncurkan rencana tiga tahun untuk mempercepat pengembangan industri bambu sebagai pengganti plastik. Anji ditetapkan sebagai salah satu basis percontohan pertama dalam inisiatif ini.

Inovasi Bambu dalam Berbagai Produk

Bai Xia, pengelola pusat pameran produk bambu di Anji, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2022, nampan makanan berbahan bambu telah menggantikan nampan plastik di kantin pemerintah dan institusi terkait.

Berbagai inovasi berbasis bambu ditampilkan di pusat pameran, termasuk alat makan, sedotan, kotak kemasan, hingga pakaian dan tempat tidur berbahan serat bambu. Bai menjelaskan bahwa peralatan makan dari bambu kini digunakan di lebih dari 300 restoran dan hotel di Anji.

“Di pasar lokal, kantong plastik telah digantikan oleh kantong biodegradable yang terbuat dari 60 persen bubuk bambu. Kantong ini dapat terurai dalam waktu tiga bulan, tetapi tetap lebih kuat dibanding plastik biasa,” kata Bai.

Di sektor pertanian, film bambu mulai menggantikan film plastik untuk konservasi panas dan air. “Karena film bambu dapat terurai secara alami, petani tidak perlu lagi mengumpulkan limbah film plastik dari ladang,” tambahnya.

Di bidang pendidikan, taman kanak-kanak di Anji telah mulai menggunakan mainan berbahan bambu, seperti balok dan model miniatur.

Proses Produksi dan Keunggulan Bambu

Tang Hui dari departemen kehutanan setempat menjelaskan bahwa bambu dapat diproses secara fisik menjadi bahan konstruksi, cangkir, dan sedotan, atau melalui proses kimia untuk menghasilkan baki tekan, pakaian serat bambu, serta bahan kemasan dari bubur bambu.

Keunggulan utama bambu dibandingkan kayu adalah pertumbuhannya yang cepat. Jika pohon membutuhkan waktu lebih dari satu dekade untuk tumbuh, bambu dapat dipanen dalam waktu empat hingga enam tahun tanpa perlu ditanam ulang. Selain itu, pemanenan bambu yang tepat dapat mencegah risiko penyakit, hama, dan kebakaran hutan akibat bambu kering yang tidak terawat.

Industri bambu juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal. Penduduk desa dapat memperoleh pendapatan dari panen bambu, sementara kapasitas bambu dalam menyerap karbon menciptakan peluang pendapatan tambahan melalui perdagangan kredit karbon.

Tantangan dan Masa Depan Bambu sebagai Pengganti Plastik

Pada tahun 2023, industri bambu di Anji menghasilkan sekitar 18 miliar yuan (Rp39,4 triliun) dalam pendapatan. Liang Fenghui, General Manager Zhejiang Fenghui Bamboo and Wood Co., mengungkapkan bahwa perusahaannya memperoleh pendapatan 130 juta yuan dari produk berbasis bambu yang diekspor ke Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan Asia Tenggara. Sekitar 80 persen dari total pendapatan perusahaan berasal dari ekspor.

Meski permintaan global terhadap bambu terus meningkat, adopsi domestik masih menghadapi kendala, terutama dalam hal biaya produksi yang lebih tinggi dibanding plastik berbasis bahan bakar fosil.

“Harga yang lebih murah membuat plastik lebih diminati oleh konsumen,” kata Tang. “Meskipun manfaat bambu dalam mengurangi polusi plastik sangat jelas, banyak orang masih merasa sulit menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari mereka.”

Sebagai upaya mendorong penggunaan bambu, pemerintah telah memberikan subsidi pada beberapa produk bambu agar lebih kompetitif dengan plastik. Selain itu, Anji telah mengembangkan sistem transportasi bambu dengan tali rendah dan drone untuk menekan biaya logistik.

Ke depan, bambu tidak hanya diproyeksikan menggantikan plastik dan kayu, tetapi juga baja, gas, hingga bahan makanan. “Dengan nilai kalorinya yang tinggi, bambu dapat menjadi sumber energi terbarukan, bahan konstruksi yang kuat, serta bahan baku kosmetik berbasis biomassa,” kata Tang.

“Untuk mewujudkan manfaat ekologi dan sosial bambu secara maksimal, diperlukan kolaborasi lintas sektor,” pungkasnya.

Sumber : China Daily, Asia News Network