Analisis

Mengapa Skema Carbon Offsets Sering Gagal? Begini Penjelasannya

416
×

Mengapa Skema Carbon Offsets Sering Gagal? Begini Penjelasannya

Sebarkan artikel ini

Solusi yang Bagus di Atas Kertas, Tapi Celah di Dunia Nyata

KabarHijau.com – Dalam upaya mengatasi perubahan iklim, skema carbon offsets atau kompensasi karbon sering diklaim sebagai solusi efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa mekanisme ini tidak selalu berjalan sesuai harapan. Bahkan, dalam banyak kasus, skema ini justru menjadi celah bagi industri besar untuk terus mencemari lingkungan tanpa perubahan berarti dalam praktik mereka.

Apa Itu Carbon Offsets?

Konsep dasar dari carbon offsets adalah perusahaan atau individu dapat “mengimbangi” emisi karbon mereka dengan membiayai proyek yang diklaim mengurangi atau menyerap karbon di tempat lain. Misalnya, sebuah perusahaan minyak dapat membayar proyek penanaman pohon di hutan Amazon dengan dalih bahwa pohon-pohon tersebut akan menyerap karbon dari atmosfer.

Dalam praktiknya, skema ini melibatkan dua jenis pasar karbon:

  1. Pasar karbon sukarela – diikuti secara sukarela oleh perusahaan yang ingin meningkatkan citra ramah lingkungan mereka.
  2. Pasar karbon kepatuhan – diwajibkan oleh regulasi pemerintah untuk memenuhi target emisi tertentu.

Namun, banyak ahli berpendapat bahwa mekanisme ini lebih sering digunakan sebagai alat pemasaran daripada solusi nyata dalam mengurangi emisi karbon.

Mengapa Carbon Offsets Bukan Solusi Efektif?

Terdapat tiga masalah utama yang membuat skema kompensasi karbon sering gagal:

1. Carbon Offsets Bukan Pengganti Pengurangan Emisi Nyata

Untuk mencapai net-zero emissions, industri besar tidak cukup hanya membeli carbon offsets—mereka juga harus mengurangi emisi mereka sendiri. Jika sebuah perusahaan tetap memproduksi karbon dalam jumlah besar namun hanya mengandalkan skema kompensasi, maka dampak positif terhadap lingkungan hampir tidak ada.

Seperti yang diungkapkan oleh Tina Swanson, ilmuwan senior di Project Drawdown:

“Jika Anda membayar orang lain untuk mengurangi emisi, tetapi tidak mengurangi emisi Anda sendiri, itu bukan kemajuan nyata.”

2. Sebagian Besar Carbon Offsets Tidak Mengurangi Emisi

Berdasarkan berbagai penelitian, mayoritas proyek kompensasi karbon tidak benar-benar mengurangi jumlah karbon di atmosfer. Sebuah investigasi terhadap Verra—salah satu penyedia sertifikasi karbon terbesar—menemukan bahwa hingga 90% kredit karbon yang mereka keluarkan tidak memberikan manfaat lingkungan yang nyata.

Beberapa alasan kegagalan ini antara lain:

  • Dampak tidak permanen: Banyak proyek berbasis pohon gagal karena pohon yang ditanam kemudian ditebang atau terbakar dalam kebakaran hutan.
  • Kurangnya tambahanitas (additionality): Beberapa proyek mengklaim “melindungi hutan dari deforestasi,” padahal hutan tersebut memang tidak pernah direncanakan untuk ditebang.
  • Konsekuensi tak terduga: Program kompor hemat energi yang didanai oleh skema kompensasi karbon ternyata mendorong masyarakat memasak lebih sering, sehingga konsumsi bahan bakar tetap tinggi.

3. Skema Ini Bisa Menjadi ‘Moral Hazard’

Banyak perusahaan dan individu menganggap bahwa membeli carbon offsets cukup untuk “menebus” emisi mereka, sehingga mereka merasa tidak perlu melakukan perubahan dalam operasional atau gaya hidup mereka. Ini menciptakan efek bumerang, di mana skema ini justru memperlambat transisi menuju energi bersih.

Seperti yang diungkapkan Swanson:

“Jika Anda membeli kredit karbon untuk menebus emisi Anda, ada risiko bahwa itu justru memperlambat upaya nyata dalam mengurangi emisi secara keseluruhan.”

Contoh Kegagalan Carbon Offsets

Beberapa contoh nyata menunjukkan betapa seringnya skema ini tidak berjalan sesuai rencana:

  • Program perlindungan hutan: Sebuah studi menemukan bahwa empat tahun setelah sebuah proyek konservasi hutan dimulai, setengah dari pohon yang diklaim terlindungi telah hilang.
  • Biofuel sebagai solusi semu: Banyak proyek biofuel mengklaim mengurangi emisi karena bahan bakarnya lebih bersih daripada bensin biasa. Namun, biofuel masih mendukung ketergantungan pada kendaraan berbasis bahan bakar fosil, sehingga menghambat transisi ke kendaraan listrik.
  • Offset di industri susu dan daging: Banyak perusahaan produk hewani menggunakan skema ini untuk mengklaim bahwa produk mereka “netral karbon,” padahal industri ini adalah salah satu penyumbang terbesar emisi gas rumah kaca global.

Skema carbon offsets bukanlah solusi yang dapat diandalkan untuk mengatasi krisis iklim. Tanpa pengurangan emisi langsung dari sumbernya, upaya ini lebih seperti strategi pemasaran hijau (greenwashing) ketimbang langkah nyata untuk menyelamatkan lingkungan.

Seperti yang disampaikan Swanson:

“Membantu orang lain mengurangi emisi adalah hal baik, tetapi jika itu hanya digunakan sebagai alasan untuk tetap mencemari, maka dalam perhitungan iklim, itu tidak cukup.”

Daripada mengandalkan skema kompensasi yang sering tidak efektif, langkah yang lebih konkret adalah beralih ke energi bersih, mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, dan mendesak industri besar untuk benar-benar menekan emisi mereka sendiri.