Analisis

Shell, Chevron, dan ExxonMobil dalam Tekanan: Ke Mana Arah Masa Depan Big Oil?

533
×

Shell, Chevron, dan ExxonMobil dalam Tekanan: Ke Mana Arah Masa Depan Big Oil?

Sebarkan artikel ini

KabarHijau.com– Tiga raksasa energi dunia, Shell, Chevron, dan ExxonMobil, menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan keuntungan dengan ambisi net zero. Dengan tekanan global untuk mengurangi emisi karbon, perusahaan-perusahaan ini mengadopsi strategi berbeda dalam menjaga profitabilitas sambil tetap berinvestasi dalam energi rendah karbon.

Laporan keuangan terbaru menunjukkan hasil yang bervariasi. ExxonMobil mencatat kinerja terbaik, sementara Shell dan Chevron mengalami tekanan akibat margin penyulingan yang melemah dan harga minyak yang lebih rendah. Namun, pertanyaan terbesar tetap: apakah langkah-langkah mereka cukup untuk menghadapi transisi energi?

Pertarungan Keuangan: Siapa yang Unggul?

Shell: Janji Besar, Keuntungan Menurun
Shell melaporkan laba kuartal IV 2024 sebesar $1,20 per ADS, jauh di bawah perkiraan $1,78 dan turun signifikan dari $2,22 di kuartal yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan juga anjlok 16,6% menjadi $66,8 miliar akibat harga minyak dan gas yang lebih rendah serta turunnya margin perdagangan LNG.

Meski demikian, Shell tetap agresif dalam mengembalikan nilai kepada pemegang saham dengan pembelian kembali saham senilai $3,6 miliar serta kenaikan dividen sebesar 5%.

Chevron: Kombinasi Untung dan Rugi
Chevron mengalami penurunan laba akibat lemahnya permintaan bahan bakar, terutama di AS dan China. Laba per saham (EPS) yang dilaporkan adalah $2,06, sedikit di bawah ekspektasi $2,11. Segmen penyulingan mencatat kerugian sebesar $248 juta dibandingkan dengan laba $1,15 miliar pada kuartal IV 2023.

Namun, di sisi produksi, Chevron mencatat kenaikan laba dari minyak dan gas sebesar $4,3 miliar, didorong oleh produksi Permian Basin yang tumbuh 14%.

ExxonMobil: Melawan Tren dengan Kejutan Positif
ExxonMobil mencatat laba kuartal IV 2024 sebesar $7,6 miliar atau $1,72 per saham, melampaui perkiraan $1,56. Meskipun harga minyak lebih rendah, peningkatan produksi di Permian Basin dan proyek Guyana membantu menjaga keuntungan perusahaan tetap tinggi.

Meskipun pendapatannya turun dari $38,57 miliar pada 2023 menjadi $33,7 miliar pada 2024, Exxon tetap menunjukkan efisiensi operasional yang kuat.

Komitmen Net Zero: Greenwashing atau Transformasi Nyata?

Shell, Chevron, dan ExxonMobil masing-masing memiliki strategi unik untuk mencapai net zero:

  • Shell menargetkan pengurangan emisi absolut sebesar 50% pada 2030 dibandingkan dengan 2016, dengan investasi besar dalam biofuel, hidrogen, dan energi terbarukan. Namun, di bawah kepemimpinan CEO Wael Sawan, perusahaan mulai mengalihkan fokus dari proyek berbasis alam ke solusi penghilangan karbon berbasis teknologi.
  • Chevron mengalokasikan $8 miliar untuk proyek energi rendah karbon hingga 2028 dan menargetkan net zero untuk emisi operasional (Scope 1 & 2) pada 2050. Namun, pencapaian target ini masih bergantung pada perkembangan teknologi dan kebijakan regulasi.
  • ExxonMobil lebih agresif dalam investasi teknologi penangkapan karbon (CCUS) dan telah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 2 juta metrik ton pada 2023. Dengan rencana investasi $17 miliar hingga 2027, perusahaan ini ingin memimpin dalam solusi dekarbonisasi industri berat.

Akankah Big Oil Beradaptasi atau Tertinggal?

Dengan regulasi iklim yang semakin ketat dan tekanan dari investor serta aktivis lingkungan, Shell, Chevron, dan ExxonMobil harus bergerak lebih cepat dalam transisi energi.

Meskipun ada upaya menuju energi hijau, kritik tetap mengarah pada strategi mereka yang dinilai masih mengutamakan produksi minyak dan gas. Akankah mereka benar-benar berubah atau hanya memperpanjang umur industri fosil?

Ke depan, dunia akan terus mengamati apakah langkah-langkah ini cukup untuk mencapai masa depan net zero yang sesungguhnya.

(KabarHijau.com – Sumber berita lingkungan dan energi berkelanjutan)