Sains

Jepang Meneliti Penyimpanan Karbon Bawah Tanah untuk Mengatasi Emisi CO₂

690
×

Jepang Meneliti Penyimpanan Karbon Bawah Tanah untuk Mengatasi Emisi CO₂

Sebarkan artikel ini
Sebuah pipa untuk mengangkut karbon dioksida ke peralatan pembuangan di lokasi uji coba penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) di Tomakomai, Hokkaido. Photo: Reuters

KabarHijau.com – Jepang tengah mengembangkan teknologi carbon capture and storage (CCS) sebagai solusi untuk mengurangi emisi karbon dioksida (CO₂), terutama dari sektor industri dan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil. Salah satu proyek CCS yang menjadi sorotan adalah rencana pembangunan pipa sepanjang Prefektur Chiba untuk menangkap dan menyimpan CO₂ di bawah laut pada kedalaman 1.000 hingga 3.000 meter.

Proyek ini merupakan bagian dari sembilan inisiatif CCS yang diseleksi oleh Japan Organization for Metals and Energy Security (JOGMEC) pada Juli 2024. Jika mendapatkan persetujuan final pada tahun fiskal 2026, lima proyek akan menyimpan CO₂ di dalam negeri, sementara empat lainnya akan mengirimkannya ke luar negeri, termasuk ke Malaysia dan Indonesia.

Jepang menargetkan untuk menangkap dan menyimpan 120 hingga 240 juta ton CO₂ per tahun pada 2050, dengan membangun sekitar 480 sumur injeksi. Pemerintah telah menggelontorkan dana besar untuk proyek ini, termasuk ¥23,9 miliar (sekitar USD 152 juta) pada 2023 dan ¥33,2 miliar pada 2024.

Harapan dan Tantangan CCS

Teknologi CCS bukanlah konsep baru. Sejak 1970-an, industri minyak dan gas telah menggunakan CO₂ untuk meningkatkan produksi minyak dalam proses yang dikenal sebagai enhanced oil recovery (EOR). Saat ini, 73% dari kapasitas CCS global masih digunakan untuk tujuan tersebut, bukan untuk mitigasi perubahan iklim.

Meskipun CCS dianggap “penting” oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang dalam mendekarbonisasi sektor-sektor berat seperti baja dan kimia, para kritikus menilai teknologi ini terlalu mahal dan berisiko. CCS juga belum terbukti mampu menangkap CO₂ dengan efisiensi yang dijanjikan. Data dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menunjukkan bahwa sebagian besar proyek CCS yang ada hanya mampu menangkap maksimal 80% CO₂ yang melewati sistemnya, jauh dari target ideal mendekati 100%.

Selain itu, penyimpanan CO₂ di bawah tanah bukan tanpa risiko. Salah satu proyek CCS di Norwegia, Snohvit, gagal jauh lebih cepat dari perkiraan akibat kapasitas penyimpanan yang tidak sesuai dengan proyeksi awal. Di Illinois, Amerika Serikat, kebocoran CO₂ dari sumur injeksi menyebabkan operasi CCS ditangguhkan pada 2024.

“Jika CCS tidak berhasil, dampaknya sangat besar bagi target pengurangan emisi Jepang,” kata Ayumi Fukakusa dari organisasi Friends of the Earth Jepang.

Dugaan ‘Kolonialisme Karbon’

Selain menyimpan CO₂ di dalam negeri, Jepang berencana mengirimkan karbonnya ke luar negeri, termasuk ke Indonesia dan Malaysia. Hal ini menimbulkan kritik tajam dari kelompok lingkungan hidup yang menyebutnya sebagai bentuk “kolonialisme karbon”.

Pada Mei 2024, 90 organisasi masyarakat sipil dari Jepang, Indonesia, Malaysia, dan Australia menandatangani surat terbuka yang mendesak pemerintah Jepang untuk menghentikan ekspor karbonnya. Menurut WALHI Indonesia, inisiatif ini hanya akan memindahkan beban karbon Jepang ke negara lain tanpa benar-benar menyelesaikan masalah emisi global.

Ke depan, Jepang menghadapi dilema besar: apakah akan terus menginvestasikan miliaran yen dalam CCS, atau beralih ke solusi yang lebih terbukti seperti energi terbarukan. Kritik utama terhadap CCS adalah bahwa teknologi ini dapat menjadi dalih bagi industri bahan bakar fosil untuk terus beroperasi tanpa perubahan signifikan dalam kebijakan energi.

“Masalah utama Jepang adalah tidak adanya kebijakan untuk menghentikan penggunaan batu bara, gas alam, dan minyak,” kata Fukakusa. “Pemerintah dan industri terlalu mengandalkan CCS dan mengasumsikan teknologi ini akan berhasil.”

Seiring dengan meningkatnya tekanan global untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, Jepang harus mempertimbangkan apakah CCS benar-benar solusi berkelanjutan atau hanya sekadar jalan pintas yang penuh risiko.

Sumber: The Japan Times