Perubahan Iklim

Bambu Serbaguna Mengurangi Risiko Iklim di Nepal

384
×

Bambu Serbaguna Mengurangi Risiko Iklim di Nepal

Sebarkan artikel ini

Desa-desa di Nepal memanfaatkan hutan bambu yang tumbuh cepat untuk melindungi mereka dari banjir yang semakin sering terjadi akibat perubahan iklim

Spesies bambu berduri ditanam di Madi. Foto: PINKI SRIS RANA

KabarHijau.com – Nepal memiliki budaya yang beragam dan bambu digunakan dalam berbagai ritual, mulai dari kelahiran hingga kematian. Selain itu, tanaman serbaguna ini dimanfaatkan dalam konstruksi, pembuatan alat musik, peralatan rumah tangga, hingga bahan makanan.

Kini, hutan bambu juga digunakan untuk melindungi desa-desa di sekitar Taman Nasional Chitwan yang rentan terhadap banjir akibat perubahan iklim.

Aliran sungai kecil yang kering di musim dingin menjadi ancaman besar saat musim hujan tiba. Oleh karena itu, para petani di Desa Madi menanam hutan bambu di sepanjang tepian sungai untuk menahan banjir dan mencegah erosi tanah.

“Saat musim hujan tiba, kami takut menutup mata di malam hari,” ujar Shanti Chapai, 58 tahun, warga yang tinggal dekat Sungai Patare Khola yang meluap tahun lalu.

Bambu sebagai Solusi Bioengineering

Gambar dari Google Earth menunjukkan bahwa daerah di sekitar Sungai Patare Khola telah mengalami penghijauan dalam 15 tahun terakhir berkat tanaman bambu.

Citra Google Earth menunjukkan penghijauan dataran banjir Patare Khola selama 15 tahun. Photo: ABARI

Saat musim kemarau, sungai ini tampak kecil, sulit membayangkan bagaimana alirannya dapat berubah menjadi sungai deras yang menghancurkan ladang dan permukiman di sekitarnya saat musim hujan tiba.

Meski bambu telah lama digunakan untuk pagar, furnitur, serta komoditas bernilai ekonomi, awalnya para petani enggan menanamnya sebagai solusi pengendalian banjir. Mereka mengira bambu adalah spesies invasif yang menyerap seluruh air tanah.

Namun, selama 15 tahun terakhir, para arsitek dari ABARI (Adobe and Bamboo Research Institute) telah melakukan eksperimen dengan spesies bambu berduri seperti Bambusa bluemeana dan Bambusa balcooa untuk merehabilitasi lahan terdegradasi dan mengendalikan banjir. Kini, area tersebut telah menjadi hutan bambu yang menghijaukan dataran banjir Sungai Patare Khola.

Sedimen yang terbawa banjir musim lalu kini tertahan di kaki pohon bambu, membuktikan bahwa tanaman ini efektif dalam menstabilkan tepian sungai dan mengurangi kecepatan arus air.

Meningkatkan Kesadaran dan Skalabilitas

Para petani di Madi kini yakin bahwa bambu merupakan solusi efektif untuk pengendalian banjir. Bambu tumbuh dengan cepat dan sangat ideal untuk mereklamasi tepian sungai yang tererosi. Nepal memiliki lebih dari 50 spesies bambu, sebagian besar tumbuh di dataran rendah yang lebih basah di bagian timur. Beberapa spesies bahkan dapat bertahan di ketinggian hingga 4.000 meter.

“Bambu sering disalahpahami dalam budaya kita karena digunakan dalam ritual kematian, sehingga memiliki konotasi negatif,” ujar Nripal Adhikary dari ABARI, yang membangun gedung berbasis bambu dan tanah padat di Nepal. “Butuh waktu untuk meyakinkan masyarakat akan manfaatnya.”

Musim hujan di Nepal selalu dikaitkan dengan bencana, tetapi perubahan iklim telah memperburuk tanah longsor dan banjir. Pembangunan jalan yang buruk, pertambangan liar di daerah tangkapan air, serta perambahan di dataran banjir semakin meningkatkan risiko bencana.

Namun, di Madi, masyarakat telah melihat sendiri manfaat nyata dari bambu dalam mengurangi dampak banjir. “Meski hujan deras tahun ini, tingkat kerusakan akibat banjir jauh lebih kecil,” kata petani Phadendra Bhattarai. “Bambu bertindak sebagai penghalang dan melindungi tanaman kami dari kehancuran.”

Keberhasilan ini dapat direplikasi dan diperluas ke seluruh Nepal. Petani di Kanchanpur, di dataran barat Nepal, juga mulai menanam bambu, napier, dan rumput gajah di sepanjang tepi sungai yang pernah menyebabkan banjir besar pada 2018.

Hutan bambu yang ditanam secara strategis juga dapat digunakan sebagai penghalang alami dengan struktur seperti pagar “landak” untuk melindungi daerah yang rawan banjir.

Peran Pemerintah dan Proyek Penelitian

Banjir pada September lalu di Nepal tengah menewaskan 224 orang, dengan Lalitpur selatan dan Kavre sebagai daerah yang paling parah terkena dampaknya. Lembah Rosi di Kavre mengalami kehancuran besar, dengan permukiman yang tersapu longsor. Namun, daerah di sekitarnya yang memiliki hutan bambu tetap utuh.

Dhaneswar Baikiya Community Forest di Kavre adalah lahan setengah hektar yang ditanami bambu oleh pemerintah dalam proyek percontohan pada 2007 untuk meneliti spesies Phyllostachys pubescens atau bambu moso. Setelah 17 tahun, Kementerian Kehutanan dan Lingkungan tampaknya telah melupakan proyek ini.

“Meskipun tidak ada penelitian khusus yang dilakukan di sini, hutan bambu inilah yang menyelamatkan desa-desa di bawahnya dari kehancuran besar,” ujar Badri Adhikari, penjaga hutan komunitas. “Akar bambu yang luas dan saling terkait menahan tanah dengan kuat, menjaga stabilitas lereng.”

Meski proyek ini sempat diabaikan, ada inisiatif lain yang mulai berkembang. Semua 12 distrik di Provinsi Lumbini telah meluncurkan kampanye penanaman bambu untuk mencegah erosi dan banjir.

Secara tradisional, bambu memang dipercaya dapat mengendalikan tanah longsor. Tidak jarang warga di pegunungan mulai merehabilitasi hutan bambu yang telah menyusut setelah menyadari manfaatnya. Selain sebagai pelindung tanah, bambu juga memiliki banyak kegunaan lainnya.

Adhikari menambahkan, “Bambu tumbuh ke atas selama musim panas dan akarnya berkembang di musim dingin. Oleh karena itu, musim dingin adalah waktu yang tepat untuk bersiap menghadapi musim hujan berikutnya yang berpotensi merusak.”

Sumber: Nepali Times