KabarHijau.com – Sebuah koalisi yang terdiri dari lebih dari 160 perusahaan, asosiasi dagang, serikat pekerja, dan kelompok kebijakan, yang dipimpin oleh Carbon Capture Coalition, mendesak Kongres AS untuk terus mendukung kredit pajak federal Section 45Q secara bipartisan.
Seruan ini menyoroti peran penting insentif pajak tersebut dalam mendukung industri di Amerika Serikat.
Dalam surat terbuka yang ditujukan kepada para pemimpin Kongres, koalisi menegaskan bahwa insentif ini sangat krusial bagi stabilitas ekonomi nasional, negara bagian, dan lokal. Kredit pajak 45Q dianggap sebagai faktor utama dalam pengembangan teknologi manajemen karbon yang berkelanjutan.
Teknologi ini dipandang penting dalam:
- Mengamankan sumber daya energi domestik.
- Memperkuat sektor industri dan manufaktur AS.
- Menciptakan lapangan kerja dengan gaji tinggi.
- Mempertahankan kepemimpinan AS dalam inovasi teknologi.
Jessie Stolark, Direktur Eksekutif Carbon Capture Coalition, mengungkapkan kebanggaannya dalam memimpin inisiatif ini, mengingat luasnya dukungan dari berbagai sektor.
“Berbagai industri bergantung pada kepastian yang diberikan oleh 45Q untuk merencanakan investasi, merekrut pekerja, dan memperoleh bahan konstruksi, serta keputusan bisnis penting lainnya,” ujar Stolark, seperti dikutip Carbon Herald.
Investasi federal, termasuk insentif pajak serta dukungan untuk penelitian, pengembangan, demonstrasi, dan penerapan teknologi ini, menjadi faktor kunci dalam komersialisasi solusi manajemen karbon.
Sejauh ini, berbagai komitmen federal dalam mendukung teknologi ini telah menghasilkan lebih dari 270 proyek domestik yang diumumkan secara publik di seluruh spektrum manajemen karbon.
Namun, tanpa dukungan kuat terhadap kredit pajak 45Q, proyek-proyek ini beserta manfaat ekonominya bagi komunitas lokal berisiko terhenti.
“Kita berada pada titik kritis saat permintaan energi global terus melonjak. AS harus tetap memimpin dalam penerapan teknologi seperti carbon capture, guna memastikan pasokan listrik domestik yang andal dan berkelanjutan,” tambah Stolark.
