Ekonomi Hijau

Shell Pimpin Pasar Kredit Karbon Global di Tengah Penurunan Investasi Energi Terbarukan

384

KabarHijau.com – Di tengah penurunan investasi energi terbarukan oleh perusahaan minyak dan gas utama Eropa, Shell yang berbasis di Inggris justru memimpin pasar kredit karbon global dengan jumlah kredit karbon yang paling banyak dipensiunkan (retired) pada tahun 2024. Hal ini diungkapkan oleh penyedia data pasar karbon, seperti dilaporkan Financial Times.

Shell, bersama perusahaan energi multinasional lainnya serta raksasa teknologi dan fashion, semakin bergantung pada kredit karbon sebagai salah satu cara mengurangi emisi gas rumah kaca dan mencapai target nol emisi bersih (net-zero). Kredit karbon memungkinkan perusahaan untuk mengimbangi emisi karbon dengan membiayai proyek-proyek yang menyerap, mengurangi, atau mencegah pelepasan karbon dioksida (CO2) ke atmosfer.

Data MSCI Carbon Markets menunjukkan bahwa Shell telah memensiunkan sebanyak 14,9 juta kredit karbon sepanjang tahun lalu, jumlah yang dua kali lipat lebih banyak dibandingkan perusahaan energi berikutnya dalam daftar, yaitu Eni dari Italia.

Selain itu, analisis data dari Allied Offsets juga menempatkan Shell sebagai pemimpin dalam pasar kredit karbon sukarela. Laporan terbaru menyebutkan bahwa Shell memensiunkan hampir tiga kali lipat lebih banyak kredit karbon dibandingkan Microsoft, perusahaan terbesar kedua dalam pasar ini.

Meskipun permintaan kredit karbon stagnan sepanjang tahun 2023 dan harga rata-rata kredit karbon turun 20%, pasar global kredit karbon tetap bernilai sekitar USD 1,4 miliar. Hingga akhir 2024, lebih dari 6.200 proyek karbon terdaftar di 12 registri kredit internasional terbesar, dengan total 180 juta ton CO2e kredit karbon dipensiunkan tahun lalu.

Para analis MSCI Carbon Markets memperkirakan pasar kredit karbon akan mengalami pemulihan, didorong oleh meningkatnya jumlah perusahaan yang menetapkan komitmen iklim ambisius serta perkembangan positif dalam kebijakan dan dinamika pasar.

Langkah Shell ini menunjukkan bahwa meskipun investasi energi terbarukan mengalami perlambatan, perusahaan besar masih mencari cara untuk mencapai target keberlanjutan mereka, termasuk melalui pasar kredit karbon yang terus berkembang.

Exit mobile version