Ekonomi Hijau

ExxonMobil Investasikan Rp243 Triliun untuk Bangun Penyimpanan Karbon di Indonesia

397
×

ExxonMobil Investasikan Rp243 Triliun untuk Bangun Penyimpanan Karbon di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Pemerintah menyepakati kerja sama dengan ExxonMobil Chemical International Major Growth Ventures (ExxonMobil) untuk pengembangan sektor petrokimia dan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Rabu (22/1/2025). (Photo: Antara)

Jakarta, KabarHijau.com – ExxonMobil resmi menandatangani komitmen investasi sebesar US$15 miliar atau sekitar Rp243 triliun (asumsi kurs Rp16.248 per dolar AS) untuk membangun fasilitas penyimpanan karbon raksasa (carbon capture storage/CCS) di Indonesia. Investasi ini juga mencakup rencana pembangunan pabrik di sektor petrokimia.

Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) berlangsung pada Rabu (22/1) di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat. Acara tersebut disaksikan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dan Presiden Direktur ExxonMobil Indonesia, Carole J. Gall.

“Ini tentu mendukung kebijakan hilirisasi dari Bapak Presiden (Prabowo Subianto), menciptakan lapangan pekerjaan, dan merupakan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan,” ujar Airlangga dalam sambutannya.

Pembangunan fasilitas CCS ini diharapkan dapat mengurangi emisi CO₂ hingga 90 persen dan menjadi salah satu proyek CCS terbesar dan pertama yang beroperasi di Indonesia.

Dua Tahap Investasi

Menurut Sekretaris Menko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, investasi ini akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama akan mengalokasikan US$10 miliar atau sekitar Rp162 triliun untuk pembangunan proyek CCS di Laut Jawa.

Selain itu, ExxonMobil juga akan mengembangkan pabrik petrokimia di atas lahan seluas 500 hektare. Lokasi storage CCS direncanakan berada di sekitar Sunda Asri, dengan kapasitas penyimpanan karbon mencapai 3 juta ton.

“Ini bisa menjadi infrastruktur CCS besar pertama di Indonesia dengan kapasitas penyimpanan karbon yang sangat signifikan,” jelas Susiwijono.

Ia menambahkan, jarak antara pabrik petrokimia dan storage CCS tidak akan lebih dari 100 kilometer untuk memastikan efisiensi operasional.

Komitmen Jangka Panjang

Proyek ini direncanakan akan berjalan selama 10 tahun ke depan dan melibatkan pembentukan satuan tugas (satgas) antara Pemerintah Indonesia dan ExxonMobil.

“CCS memiliki potensi besar untuk mendukung transisi energi Indonesia ke depan, dan ini adalah langkah konkret dari ExxonMobil dalam mewujudkannya,” tutup Susiwijono.

Proyek ambisius ini diharapkan dapat memberikan dampak positif, tidak hanya dalam mendukung kebijakan dekarbonisasi, tetapi juga dalam membuka peluang kerja dan memperkuat sektor industri nasional.