KabarHijau.com – Dalam upaya mengurangi jejak karbon mereka, Shell dan Microsoft muncul sebagai pembeli kredit karbon terbesar pada tahun 2024, berdasarkan laporan Allied Offsets. Namun, pendekatan kedua raksasa ini mencerminkan strategi dan prioritas yang berbeda dalam menghadapi emisi karbon melalui pasar karbon sukarela (Voluntary Carbon Market/VCM).
Shell, perusahaan energi terbesar di dunia, dan Microsoft, pemimpin teknologi, menjadi pemain penting di VCM. Namun, fokus dan jenis proyek yang mereka dukung menunjukkan kontras yang signifikan dalam upaya mereka mencapai tujuan keberlanjutan.
Sementara itu, pasar kredit karbon secara keseluruhan di tahun 2024 menunjukkan peningkatan minat pada proyek penghilangan karbon dan diversifikasi jenis proyek.
Shell membeli 14,5 juta kredit karbon pada 2024, mempertahankan posisi teratas untuk tahun kedua berturut-turut. Sebagian besar kredit ini—sekitar 9,4 juta—berasal dari proyek kehutanan dan penggunaan lahan yang berfokus pada perlindungan hutan untuk mencegah pelepasan karbon yang tersimpan. Proyek semacam ini dinilai efektif dari segi biaya, meskipun sering mendapat kritik terkait integritasnya.
Selain itu, Shell juga membeli 2,4 juta kredit energi terbarukan, yang dikenal lebih murah dan diterima luas di pasar. Meski berfokus pada proyek yang lebih terjangkau, Shell menghadapi tantangan untuk menjaga kualitas proyeknya.
Dengan target mencapai emisi nol bersih pada tahun 2050, Shell berkomitmen untuk mengurangi emisi operasionalnya sebesar 50% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tingkat tahun 2016.
Microsoft mengambil pendekatan berbeda dengan mengutamakan teknologi penghilangan karbon. Pada 2024, perusahaan ini membeli 5,5 juta kredit karbon, dengan 80% berasal dari proyek Bioenergy with Carbon Capture and Storage (BECCS).
Teknologi BECCS bekerja dengan menangkap karbon dioksida yang dihasilkan dari pembakaran biomassa dan menyimpannya di bawah tanah. Meski mahal—dengan harga rata-rata $389 per kredit—Microsoft melihat ini sebagai investasi penting untuk mencapai targetnya menjadi karbon-negatif pada 2030.
Pendekatan ini mencerminkan kepemimpinan Microsoft dalam mendorong solusi inovatif di industri teknologi demi keberlanjutan jangka panjang.
Pasar karbon sukarela pada 2024 menunjukkan pergeseran ke arah proyek-proyek penghilangan karbon yang lebih berkualitas, meskipun total aktivitas pasar cenderung stagnan. Proyek energi terbarukan dan kehutanan masih mendominasi, tetapi kontribusinya menurun dari 80% pada 2020 menjadi 70% di 2024.
Selain itu, teknologi baru seperti penangkapan karbon langsung dari udara (Direct Air Capture) mulai menarik perhatian lebih banyak pembeli.
Salah satu tantangan utama pasar adalah kelebihan pasokan kredit karbon, yang terus meningkat pada 2024. Banyak kredit lama, terutama dari Mekanisme Pembangunan Bersih (CDM), dikritik karena kurangnya tambahanitas dan dampak nyata.
Meski demikian, jumlah pembeli aktif di VCM terus bertambah, dengan lebih dari 6.500 perusahaan berpartisipasi pada 2024.
Perbedaan strategi antara Shell dan Microsoft mencerminkan pendekatan yang beragam dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Shell fokus pada proyek yang terjangkau dan berskala besar, sementara Microsoft berinvestasi pada teknologi canggih untuk penghilangan karbon.
Dengan semakin berkembangnya pasar karbon, kedua perusahaan ini akan terus memainkan peran penting dalam membentuk bagaimana bisnis mengelola jejak karbon mereka dan mendukung upaya global melawan perubahan iklim.
