Ekonomi Hijau

PLN Siapkan Teknologi Penangkapan Karbon di Empat Pembangkit Listrik Pulau Jawa

402
Ilustrasi PLTU/Foto: dok. PLN

Bogor, KabarHijau.com – PT PLN Enjiniring berencana memasang teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon atau carbon capture and storage (CCS) pada empat pembangkit listrik di Pulau Jawa mulai tahun 2040. Keempat pembangkit tersebut adalah PLTU Suralaya (batu bara) Unit 1-7, PLTU Indramayu (batu bara) Unit 1-3, PLTGU Tambak Lorok (gas) Blok 1-2, dan PLTU Tanjung Jati B (batu bara) Unit 1-4.

Presiden Direktur PLN Enjiniring, Chairani Rachmatullah, menjelaskan bahwa dari total 52 unit PLTU yang ada di Indonesia saat ini, pihaknya melakukan studi untuk menentukan PLTU prioritas yang strategis secara teknologi termal dan layak dipertahankan.

“Dari studi tersebut, sudah terpilih empat lokasi di Jawa sebagai pilot project. Empat lokasi ini akan menjadi prioritas, dengan total kapasitas yang direncanakan mencapai 19 GW,” ujar Chairani saat ditemui usai agenda Understanding Carbon Capture and Storage (CCS) pada Minggu (19/1/2025), sebagaimana dikutip dari Bisnis.com.

Chairani menyebutkan bahwa PLTU yang akan dipasangi CCS merupakan pembangkit dengan 5% co-firing biomassa. Langkah ini sejalan dengan upaya PLN mengurangi emisi karbon melalui penggunaan energi baru terbarukan (EBT). Selain itu, PLTU baru dari kontrak PLN dengan independent power producer (IPP) yang telah ditandatangani sebelum komitmen Paris Agreement terkait Net Zero Emission juga akan dipasangi CCS.

“Kita merencanakan pemasangan CCS atau CCUS (Carbon Capture, Utilization, and Storage) pada tahun 2040. Teknologinya akan mulai dipilih pada tahun 2030 sehingga eksekusi diharapkan sudah mencakup 2 gigawatt pada tahun 2040,” tambahnya.

Lebih lanjut, PLN juga terus mengembangkan pembangkit EBT lainnya sebagai bagian dari roadmap dekarbonisasi. “Kami telah meresmikan pembangkit Jatigede tahun lalu. Selanjutnya akan menyusul pembangkit-pembangkit lainnya seperti PLTA Asahan, PLTS Ibu Kota Nusantara (IKN) dengan kapasitas 50 MW, dan proyek lainnya,” jelas Chairani.

Di sisi lain, teknologi CCS merupakan bagian dari strategi perseroan untuk menekan emisi karbon, selain penghentian bertahap pengoperasian PLTU (phase out). PLN juga mempertimbangkan pensiun dini untuk PLTU yang sudah dapat mengoptimalkan potensi EBT tanpa mengganggu keandalan layanan kelistrikan.

“Namun, jika pensiun dini dapat mengganggu keandalan listrik, maka kami mengusulkan pengoperasian PLTU tetap mengikuti usia teknisnya. Beban operasionalnya akan diturunkan secara bertahap sambil menambah pembangkit EBT di wilayah sekitarnya,” pungkasnya.

Teknologi CCS dan pengembangan EBT ini menunjukkan komitmen PLN dalam mendukung transisi energi bersih dan mengurangi emisi karbon untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.

Exit mobile version