Wawasan

Menguak Sisi Lain Biodiesel B40: Solusi Energi atau Beban Baru?

804
×

Menguak Sisi Lain Biodiesel B40: Solusi Energi atau Beban Baru?

Sebarkan artikel ini
Foto: Uji coba B40/Shafira Cendra Arini - detikcom

KabarHijau.com – Mulai Januari 2025, Indonesia resmi meluncurkan program biodiesel B40, yang meningkatkan kandungan biodiesel dalam bahan bakar dari 35% menjadi 40%. Langkah ini merupakan bagian dari upaya transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Namun, di balik klaim manfaat besar, program ini menuai pro dan kontra, terutama terkait keberlanjutan lingkungan, dampak ekonomi, dan ketahanan pangan.

Pemerintah menargetkan beberapa manfaat besar dari program B40:

  1. Penghematan Devisa: Dengan mengurangi impor bahan bakar fosil, B40 diproyeksikan menghemat devisa hingga Rp147,5 triliun per tahun.
  2. Penciptaan Lapangan Kerja: Industri biodiesel diharapkan menyerap lebih dari 14 juta tenaga kerja di luar sektor pertanian, serta 1,95 juta di sektor pertanian.
  3. Pengurangan Emisi Karbon: Program ini diperkirakan mampu menurunkan emisi karbon hingga 40 juta ton per tahun, berkontribusi pada target pengendalian perubahan iklim.

Meski menjanjikan, program B40 menyisakan beberapa tantangan besar:

  1. Dampak Lingkungan: Produksi biodiesel berbasis minyak kelapa sawit sering dikaitkan dengan deforestasi, degradasi lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati. Hingga kini, belum ada kajian mendalam tentang dampak jangka panjang dari peningkatan konsumsi biodiesel.
  2. Ketahanan Pangan: Pengalihan minyak kelapa sawit untuk bahan bakar dapat mengurangi ketersediaan untuk kebutuhan pangan. Hal ini berpotensi memengaruhi harga minyak goreng dan mengancam ketahanan pangan nasional.
  3. Efektivitas Energi Bersih: Meskipun disebut sebagai solusi energi bersih, campuran B40 masih mengandung 60% bahan bakar fosil. Ini menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar kontribusinya dalam pengurangan emisi karbon secara keseluruhan.
  4. Manfaat Ekonomi yang Dipertanyakan: Beberapa pihak meragukan apakah penghematan devisa yang diharapkan sebanding dengan biaya produksi, subsidi, dan potensi kerugian lingkungan.

Langkah Menuju B40 yang Lebih Berkelanjutan
Untuk memastikan program B40 efektif dan berkelanjutan, langkah-langkah berikut perlu diambil:

  1. Diversifikasi Bahan Baku: Mengurangi ketergantungan pada minyak sawit dengan mengembangkan bahan baku alternatif, seperti ganggang atau limbah biomassa.
  2. Pengembangan Biofuel Generasi Baru: Mendukung riset dan pengembangan biofuel generasi kedua dan ketiga yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
  3. Pengawasan Keberlanjutan: Menerapkan sertifikasi seperti ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil) untuk memastikan produksi biodiesel tidak merusak lingkungan atau melanggar hak masyarakat lokal.
  4. Strategi Jangka Panjang: Mengintegrasikan penggunaan biodiesel dengan inovasi energi lain, seperti kendaraan listrik, untuk menciptakan transisi energi yang holistik.

Program B40 adalah langkah signifikan dalam transisi energi Indonesia, namun keberhasilannya sangat bergantung pada pengelolaan risiko yang cermat. Dalam menghadapi tantangan lingkungan dan sosial, perlu sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat untuk memastikan program ini tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi karbon, tetapi juga mendukung pembangunan berkelanjutan.

Penulis : Marzuki,S.T.,M.T, Pemimpin Redaksi KabarHijau.com.