Energi HijauIsu Terkini

Salim Group Bangun Pembangkit Listrik Hidrogen Senilai Rp11,9 Triliun di Singapura, Indonesia Tertinggal?

478
Pembangkit Listrik. Sumber Gambar : Getty

Jakarta, KabarHijau.com – Salim Group kembali menunjukkan langkah agresif dalam ekspansi bisnis sektor energi baru terbarukan (EBT). Sayangnya, investasi besar berupa pembangkit listrik tenaga hidrogen yang mereka rencanakan tidak dibangun di Indonesia, melainkan di Singapura.

Melalui anak usaha First Pacific Company Limited, PacificLight Power Pte. Ltd. (PLP), konglomerat Anthoni Salim akan membangun pembangkit listrik berbasis hidrogen di Pulau Jurong, Singapura. Proyek ini bernilai kontrak mencapai USD 735 juta atau sekitar Rp11,9 triliun, seperti dilaporkan Forbes.

PLP, yang telah mendapatkan hak eksklusif dari Energy Market Authority (EMA) Singapura, akan mengembangkan, memiliki, dan mengoperasikan fasilitas combined cycle gas turbine (CCGT) berbasis hidrogen tersebut. Sejak 2014, PLP telah memasok sekitar 10% kebutuhan listrik di Singapura.

Indonesia Tertinggal dalam Pemanfaatan Hidrogen

Keputusan investasi Salim Group ini membuat para pemangku kepentingan EBT di Indonesia merasa tertinggal. Pasalnya, Indonesia masih terus berupaya mencapai target bauran energi, tetapi pengembangan hidrogen hijau di dalam negeri masih sangat terbatas.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menyebutkan bahwa potensi investasi hidrogen di Indonesia sebenarnya sangat besar, baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. “Kita harus memproduksi lebih banyak hidrogen, terutama hidrogen hijau yang memenuhi standar negara seperti Jepang dan Korea,” ujarnya.

Namun, ia menyoroti bahwa regulasi dan insentif yang ada saat ini belum cukup menarik bagi investor. “Pemerintah perlu menyediakan peta jalan yang lebih jelas serta insentif, seperti keringanan pajak impor untuk teknologi produksi hidrogen,” tambah Fabby.

PLN dan Pertamina Mulai Langkah Awal

Di Indonesia, PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) telah mulai mengembangkan proyek hidrogen hijau. PLN, misalnya, sudah memproduksi 203 ton hidrogen per tahun dari 22 pembangkit listrik yang mereka miliki, termasuk di PLTP Kamojang. Meski demikian, produksi ini sebagian besar masih digunakan untuk kebutuhan internal.

Pertamina, melalui Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), juga memulai pengembangan stasiun pengisian hidrogen di Jakarta. Namun, kelanjutan pengembangan proyek ini belum terdengar signifikan.

Portofolio EBT Salim Group

Sebelum proyek di Singapura ini, Salim Group telah memiliki portofolio yang kuat di sektor EBT. Di Indonesia, melalui PT Aruna Cahaya Pratama, mereka mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 MWp di Purwakarta. Selain itu, anak usaha mereka, PT Tamaris Hidro, telah mengakuisisi beberapa pembangkit listrik tenaga mini hidro (PLTM) di Garut dan Sumatra Utara.

Namun, langkah Salim Group di luar negeri, seperti proyek PLTS di Pulau Bulan, Kepulauan Riau, untuk memasok listrik ke Singapura, justru menunjukkan potensi Indonesia yang lebih banyak dinikmati oleh negara tetangga.

Masa Depan Hidrogen Hijau di Indonesia

Ke depan, pengembangan hidrogen hijau di Indonesia membutuhkan dukungan yang lebih konkret dari pemerintah. Selain insentif, pemerintah perlu mendorong produksi dan menciptakan pasar yang kompetitif untuk menarik investasi lebih besar. Jika langkah ini tidak segera diambil, Indonesia berisiko hanya menjadi penonton dalam transformasi energi global.


Dapatkan berita terbaru seputar energi terbarukan hanya di kabarhijau.com.

Exit mobile version